Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Pengungsi Afrikaner Tiba di AS, Pemerintah Afrika Selatan: Mereka Bukan Korban

badge-check


					Sekelompok Afrikaner menunjukkan dukungan mereka kepada Donald Trump di depan Kedubes AS di Pretoria, Afrika Selatan pada Februari 2025 yang lalu. Perbesar

Sekelompok Afrikaner menunjukkan dukungan mereka kepada Donald Trump di depan Kedubes AS di Pretoria, Afrika Selatan pada Februari 2025 yang lalu.

Cape Town – Sebanyak 49 warga kulit putih Afrika Selatan (Afrikaner) berangkat ke Amerika Serikat, Minggu (11/5/2025), dengan menggunakan pesawat carteran khusus setelah memperoleh status pengungsi dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Kelompok yang terdiri atas keluarga dan anak-anak ini dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Dulles di luar kota Washington, Senin pagi waktu setempat. Informasi ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Transportasi Afrika Selatan, Collen Msibi.

Mereka adalah kelompok pertama dari komunitas Afrikaner, minoritas kulit putih keturunan Belanda dan Prancis, yang dipindahkan ke Amerika Serikat. Pemindahan ini terjadi setelah Presiden Trump mengeluarkan perintah eksekutif pada 7 Februari lalu. Dalam kebijakan tersebut, Trump menuduh pemerintah Afrika Selatan yang dipimpin mayoritas kulit hitam melakukan diskriminasi rasial terhadap Afrikaner, dan mengumumkan program khusus untuk relokasi mereka.

Namun, pemerintah Afrika Selatan membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataan resminya, pemerintah menyebut klaim bahwa warga Afrikaner menjadi korban persekusi rasial sebagai “sepenuhnya tidak benar”.

Trump Prioritaskan Pengungsi Kulit Putih, Dunia Pertanyakan Standar Ganda

Meski demikian, proses permohonan suaka kelompok ini dipercepat oleh pemerintah Trump. Hal ini terjadi di tengah penghentian sementara program pengungsi dari berbagai negara lain seperti Afghanistan, Irak, dan sebagian besar wilayah Afrika Sub-Sahara, sebuah keputusan yang kini menghadapi gugatan hukum di AS.

Kelompok advokasi pengungsi mempertanyakan keputusan pemerintah AS yang memprioritaskan warga kulit putih Afrika Selatan dibandingkan dengan pengungsi dari wilayah konflik atau bencana kemanusiaan. Proses pemeriksaan status pengungsi di AS biasanya memakan waktu bertahun-tahun.

Pemerintah AS menuduh Afrika Selatan menjalankan kebijakan “anti-kulit putih” melalui hukum aksi afirmatif dan rencana undang-undang pengambilalihan tanah yang disebut hanya menyasar kepemilikan lahan Afrikaner. Pemerintah Afrika Selatan menegaskan tidak ada tindakan diskriminatif seperti yang dituduhkan dan belum ada satu pun tanah yang disita.

Afrika Selatan: Afrikaner Bukan Korban

“Orang-orang Afrikaner justru merupakan kelompok yang sangat diuntungkan secara ekonomi,” kata pemerintah Afrika Selatan. Mereka juga menolak tuduhan bahwa kelompok ini menjadi sasaran serangan bermotif rasial di pedesaan.

Penerbangan pertama pengungsi Afrikaner ini dioperasikan oleh perusahaan carteran asal Oklahoma, Omni Air International. Pesawat berangkat dari Bandara Internasional OR Tambo di Johannesburg dengan pengawalan aparat kepolisian dan petugas bandara. Seluruh penumpang telah diperiksa untuk memastikan tidak ada catatan kriminal sebelum diperbolehkan meninggalkan negara itu. Pesawat dijadwalkan transit untuk mengisi bahan bakar di Dakar, Senegal, sebelum melanjutkan penerbangan ke Washington.

Meski menolak klaim persekusi, pemerintah Afrika Selatan menyatakan tidak akan menghalangi kepergian warga yang memilih untuk pindah. Mereka juga akan tetap menghormati kebebasan memilih warganya.

Relokasi Dianggap “Perlindungan Rasial”

Sesampainya di Washington, kelompok pengungsi ini akan disambut oleh delegasi pemerintah AS. Delegasi tersebut mencakup wakil menteri luar negeri serta pejabat dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) yang bertanggung jawab atas program relokasi.

Stephen Miller, Wakil Kepala Staf Gedung Putih, mengatakan pada Jumat lalu bahwa relokasi ini merupakan bagian dari upaya yang lebih besar. “Apa yang terjadi pada komunitas Afrikaner di Afrika Selatan adalah bentuk nyata persekusi berbasis ras — dan itu sesuai dengan definisi pengungsi,” ujar Miller.

HHS telah menyiapkan bantuan berupa perumahan, perlengkapan rumah tangga, makanan, pakaian, hingga kebutuhan anak seperti popok bagi para pengungsi ini.

Namun, langkah ini memunculkan banyak pertanyaan di dalam dan luar negeri. Di Afrika Selatan sendiri, banyak pihak merasa heran dengan klaim bahwa Afrikaner adalah korban persekusi. Mereka tetap menjadi bagian dari kehidupan multirasial di negara tersebut, menduduki posisi penting di pemerintahan, dunia usaha, dan budaya.

Bahasa Afrikaans — bahasa komunitas Afrikaner — diakui sebagai salah satu bahasa resmi negara dan digunakan secara luas.

Pada Februari lalu, Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang mencabut bantuan AS untuk Afrika Selatan. Ia beralasan bahwa keputusan tersebut diambil karena sikap negara itu yang dianggap anti-kulit putih dan anti-Amerika. Trump menyoroti hubungan Afrika Selatan dengan Iran serta pengajuan kasus dugaan genosida terhadap Israel sebagai contoh sikap agresif terhadap AS.

Program relokasi ini disebut-sebut akan terus berkembang dan menjadi prioritas kebijakan luar negeri pemerintahan Trump di tengah berbagai kritik internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional