Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

AS dan China Jadwalkan Pertemuan di Swiss, Langkah Awal Akhiri Perang Dagang?

badge-check


					AS dan China Jadwalkan Pertemuan di Swiss, Langkah Awal Akhiri Perang Dagang? Perbesar

Washington – Amerika Serikat dan China akan menggelar pertemuan penting di Swiss pada Sabtu mendatang dalam upaya awal meredakan perang dagang yang telah mengguncang ekonomi global. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dan perwakilan dagang utama, Jamieson Greer, dijadwalkan bertemu dengan pejabat ekonomi tertinggi China di Jenewa, menurut keterangan resmi dari otoritas AS, Selasa (6/5/2025) waktu setempat.

Rencana pertemuan dangan AS dan China ini langsung disambut positif oleh pasar. Indeks futures S&P 500 melonjak sekitar 1 persen setelah dua hari berturut-turut mengalami tekanan akibat ketidakpastian seputar kebijakan tarif Presiden Donald Trump.

Dalam pernyataan bersama, Kantor Perwakilan Dagang dan Departemen Keuangan AS mengungkapkan bahwa Bessent dan Greer akan terbang ke Jenewa pada Kamis dan juga dijadwalkan bertemu Presiden Swiss, Karin Keller-Sutter, guna membahas negosiasi perdagangan timbal balik.

“Intinya adalah de-eskalasi,” ujar Bessent. “Kita perlu menurunkan tensi sebelum bisa melangkah lebih jauh.”

Setujui Pertemuan dengan AS, China: Siap Berdialog, Tapi Waspada

Belum ada keterangan resmi siapa pejabat yang akan mewakili China, namun banyak pihak memperkirakan Wakil Perdana Menteri He Lifeng—yang dikenal luas sebagai arsitek kebijakan ekonomi Negeri Tirai Bambu—akan memimpin delegasi Beijing.

Juru bicara Kementerian Perdagangan China, dalam pernyataan tertulis, membenarkan bahwa China setuju untuk kembali menjalin komunikasi dengan AS.

“Dengan mempertimbangkan ekspektasi global, kepentingan nasional China, serta aspirasi industri dan konsumen AS, China memutuskan untuk kembali terlibat,” tulis pernyataan tersebut. Namun demikian, China juga mengingatkan agar pembicaraan tidak dimanfaatkan sebagai dalih untuk tekanan sepihak. “Ada pepatah Tiongkok: Dengarkan kata-katanya, lihat tindakannya.”

Sikap Trump dan timnya terkait negosiasi dagang sejauh ini memang cenderung fluktuatif. Dalam kesempatan berbeda di hari yang sama, Bessent menyampaikan kepada anggota Kongres bahwa saat ini pemerintahan Trump sedang bernegosiasi dengan 17 mitra dagang utama, namun belum termasuk China. Beberapa kesepakatan disebut bisa diumumkan pekan ini.

Sementara itu, Presiden Trump menyatakan akan meninjau seluruh rancangan kesepakatan dagang dalam dua pekan ke depan. Proses ini akan dilakukan bersama sejumlah pejabat tinggi, termasuk Perdana Menteri Kanada, Mark Carney. Pernyataan ini sempat menekan pasar saham AS.

Pertemuan di Swiss belum secara resmi disebut sebagai awal dari proses negosiasi formal. AS dan China masih terlibat dalam dinamika tarik-ulur soal tarif, di mana kedua pihak saling balas menaikkan bea masuk.

Jurang Defisit dan Lonjakan Impor

Kebijakan tarif Presiden Trump, yang diberlakukan sejak awal April, telah memicu gejolak besar. AS mengenakan tarif 10 persen untuk sebagian besar negara dan tarif hingga 145 persen terhadap produk asal China. Sebagai respons, China menaikkan tarif hingga 125 persen terhadap barang-barang AS.

Langkah ini justru memperlebar defisit perdagangan AS. Data terbaru Departemen Perdagangan menunjukkan defisit melonjak ke rekor tertinggi pada Maret, seiring lonjakan impor barang sebelum tarif diberlakukan.

Sektor farmasi mencatat lonjakan tertinggi karena perusahaan berupaya mempercepat impor sebelum kenaikan tarif diberlakukan. Namun demikian, defisit dagang AS dengan China justru menyempit tajam, menyusul berkurangnya volume impor akibat beban tarif tinggi.

Sejak menjabat Januari lalu, Trump telah menaikkan tarif terhadap produk China hingga 145 persen. Kebijakan ini diberlakukan sebagai hukuman atas dugaan praktik dagang tidak adil serta peran negara tersebut dalam krisis fentanyl di AS. Bessent menyebut tingkat tarif ini sebagai “tidak berkelanjutan” dan mendekati embargo perdagangan penuh antara dua ekonomi terbesar dunia.

“Saya berharap pertemuan ini dapat membuka jalan menuju sistem ekonomi global yang lebih seimbang dan berpihak pada kepentingan Amerika Serikat,” ujar Bessent dalam pernyataan resminya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Serang Kapal Iran di Selat Hormuz, Minyak Kembali Melonjak

5 Mei 2026 - 12:36 WIB

AS serang kapal Iran di Selat Hormuz, picu ketegangan global dan lonjakan harga minyak hingga 115 dolar per barel.

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.
Trending di Internasional