Menu

Mode Gelap
Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka Korupsi Laptop Chromebook Gempa Dahsyat di Afghanistan Tewaskan Lebih dari 800 Orang Sejumlah Politisi Nasdem, PAN, dan Golkar Dicopot dari DPR Usai Demo Besar Taylor Swift dan Travis Kelce Umumkan Tunangan Siapa Anggota DPR yang Usulkan Gerbong Khusus Perokok? KAI Tegas Tolak Terkontaminasi Radioaktif, Kemendag Hentikan Ekspor Udang Indonesia ke AS

Internasional

Satu Petani Tewas dalam Penggerebekan Ladang Ganja California

badge-check


					(foto: REUTERS/Daniel Cole) Perbesar

(foto: REUTERS/Daniel Cole)

Washington – Seorang buruh tani di California meninggal dunia pada Jumat (11/7/2025) akibat luka parah dalam sebuah penggerebekan besar-besaran oleh petugas imigrasi Amerika Serikat di ladang ganja legal di negara bagian tersebut. Selain itu, petugas imigrasi juga menangkap lebih dari 200 orang pekerja.

Menurut kelompok advokasi buruh tani United Farm Workers (UFW), penggerebekan yang terjadi pada Kamis (10/7/2025) di dua lokasi milik perusahaan Glass House Farms itu berujung ricuh.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan bahwa agen federal juga menemukan 10 anak di bawah umur yang bekerja di lokasi tersebut. Investigasi kini juga meluas ke dugaan pelanggaran ketenagakerjaan anak.

Beberapa pekerja pertanian mengalami luka-luka dalam penggerebekan tersebut. Salah satu di antaranya meninggal akibat cedera setelah terjatuh dari ketinggian sekitar 30 kaki, ujar Elizabeth Strater, Wakil Presiden UFW.

Kekerasan dalam Penindakan

Aksi penggerebekan oleh agen bersenjata lengkap itu memicu kemarahan dari para aktivis hak migran yang sempat berunjuk rasa di lokasi. Dalam dokumentasi video dan foto yang tersebar, tampak aparat menggunakan gas air mata dan granat asap untuk membubarkan kerumunan.

Presiden UFW Teresa Romero mengkritik keras cara aparat menangani aksi tersebut. Ia mengklaim beberapa warga AS juga sempat ditahan, bahkan baru dibebaskan setelah menghapus rekaman penggerebekan dari ponsel mereka.

“Tindakan federal yang kejam dan penuh kekerasan ini menciptakan teror di komunitas-komunitas Amerika, mengancam nyawa, memutus rantai pasok pangan, dan memisahkan keluarga,” kata Romero.

Konteks Politik yang Membayangi

Penggerebekan ini menjadi bagian dari kampanye Presiden Donald Trump yang terus mengedepankan deportasi massal terhadap imigran ilegal. Namun, pemerintahannya juga inkonsisten terkait kebijakan terhadap pekerja migran di sektor pertanian.

Menteri Pertanian Brooke Rollins sebelumnya menegaskan tidak akan ada “amnesti” bagi buruh tani dari deportasi. Meskipun Presiden Trump sendiri menyatakan bahwa pekerja migran seharusnya diizinkan tetap bekerja di lahan pertanian.

Sementara itu, kelompok petani memperingatkan bahwa langkah pengusiran massal pekerja migran dapat berakibat fatal bagi keberlangsungan rantai pasokan pangan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AS Pecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan, di Tengah Konflik Iran

23 April 2026 - 07:23 WIB

Amerika Serikat pecat John Phelan dari jabatan Sekretaris Angkatan Laut AS di tengah konflik Iran dan blokade Selat Hormuz.

Belum Usai, Jepang Terancam Gempa Lebih Besar Setelah M 7,7

21 April 2026 - 10:04 WIB

Jepang siaga gempa besar susulan usai M 7,7 picu peringatan tsunami. Otoritas peringatkan potensi gempa lebih kuat dalam sepekan.

Tesla Kembangkan Mobil Listrik Kecil dan Murah

15 April 2026 - 12:08 WIB

Tesla mengembangkan mobil SUV listrik baru yang lebih kecil dan murah untuk pasar global

Blokade AS Tak Banyak Ubah Lalu Lintas Selat Hormuz

15 April 2026 - 09:34 WIB

Blokade AS di Selat Hormuz Tak Banyak Ubah Lalu Lintas, Ketidakpastian Meningkat.

Gencatan Dagang China – AS Dorong Optimisme Investor Asing

31 Oktober 2025 - 09:41 WIB

Gencatan dagang China - AS menghapus kekhawatiran investor global dan memicu optimisme baru di pasar saham China.
Trending di Internasional