Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

FBI Sambangi Rumah Pendukung Dan J. Sullivan, Selidiki Dugaan Kandidat Boneka

badge-check

Warga Alaska memberikan suaranya pada midterm election 2026 di bilik suara yang tersedia. (Foto: tangkapan layar video AP) Perbesar

Warga Alaska memberikan suaranya pada midterm election 2026 di bilik suara yang tersedia. (Foto: tangkapan layar video AP)

PETERSBURG, 3 November 2026 – Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) selidiki dugaan praktik perekrutan kandidat boneka untuk mengalihkan suara pemilih dari calon pesaing dalam pemilihan Senat di Alaska.

Penyelidikan tersebut menyeret Dan J. Sullivan, mantan guru sekolah dasar yang maju sebagai kandidat Partai Republik untuk menantang senator petahana dari partai yang sama, Dan S. Sullivan.

Dugaan praktik tersebut dikenal sebagai ballot stacking, yakni strategi memunculkan kandidat tambahan untuk memecah suara dan melemahkan peluang lawan politik.

Kasus ini menjadi perhatian serius setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan tuntutan pidana terkait strategi kampanye tersebut.

FBI bahkan mendatangi sejumlah warga di Petersburg, Alaska, yang pernah menyumbangkan uang untuk kampanye Dan J. Sullivan. Kota nelayan kecil yang dikenal dengan julukan Little Norway itu kini menjadi pusat perhatian penyelidikan federal.

Salah seorang warga, Sharon Hunter, mengaku didatangi agen FBI pada Sabtu (31/10). Ia dan suaminya pernah menyumbangkan 1.000 dollar AS untuk kampanye mantan guru tersebut.

Hunter mempertanyakan penggunaan uang pajak untuk menyelidiki seseorang yang menurutnya telah banyak berkontribusi bagi masyarakat setempat.

“Saya merasa ini benar-benar pemborosan uang pajak,” kata Hunter.

Dua Dan Sullivan Bersaing untuk Satu Kursi Senat

Persaingan dua kandidat bernama Dan Sullivan menjadi sorotan karena senator petahana Dan S. Sullivan sedang menghadapi tantangan serius dari Mary Peltola, mantan anggota DPR AS dari Partai Demokrat.

Pemilihan tersebut berpotensi menentukan partai yang akan menguasai Senat AS.

Masuknya Dan J. Sullivan ke dalam persaingan sejak Mei 2026 memicu kecurigaan. Pada Juni, Divisi Pemilu Alaska sempat berupaya menghapus namanya dari surat suara pemilihan pendahuluan.

Pihak penyelenggara menilai pencalonannya sebagai anggota Partai Republik tidak dilakukan dengan iktikad baik. Namun, pengadilan negara bagian kemudian membatalkan keputusan tersebut.

Untuk menghindari kebingungan pemilih, petugas pemilu mencantumkan Dan S. Sullivan sebagai kandidat petahana dari Partai Republik.

Dan J. Sullivan berulang kali membantah bahwa pencalonannya diatur oleh kubu Demokrat atau Mary Peltola.

Dalam wawancara dengan Associated Press pada Juni, ia menegaskan tidak pernah berkomunikasi dengan tim kampanye Peltola maupun operator politik Partai Demokrat.

“Ini pilihan saya sendiri,” katanya.

Peltola juga membantah terlibat dalam dugaan praktik tersebut. Ia berusaha menjaga jarak dari laporan The New York Times yang menghubungkan kelompok pendukungnya dengan seorang operator politik Demokrat yang diduga berupaya merekrut kandidat pengalih suara.

“Ini Alaska. Kami tidak terbiasa saling menipu di sini,” kata Peltola kepada para pendukungnya dalam sebuah kampanye di Anchorage.

FBI menyelidiki dugaan praktik kandidat boneka dalam pemilihan Senat di Alaska
Surat suara untuk midterm election di Alaska yang mencantumkan dua nama Dan Sullivan.

FBI Periksa Para Donatur Kampanye

Agen FBI mendatangi kota tersebut dalam beberapa hari terakhir seiring langkah otoritas federal memperluas penyelidikan kriminal selama berbulan-bulan terkait dugaan bahwa juru kampanye Partai Demokrat berupaya merekrut calon untuk melawan petahana senator.

Sebagian besar donatur Dan J. Sullivan berasal dari Petersburg. Mereka secara keseluruhan menyumbangkan 7.150 dollar AS untuk kampanyenya.

Sejumlah donatur yang diperiksa mengatakan agen FBI menanyakan apakah mereka merasa tertipu ketika memberikan sumbangan kepada Dan J. Sullivan.

Anna Holmes dan suaminya, misalnya, menyumbangkan 500 dollar AS untuk kampanye tersebut. Keduanya mengaku terkejut ketika agen FBI datang ke rumah mereka pada Jumat (30/10) malam.

Menurut Holmes, agen menyampaikan bahwa pemeriksaan berkaitan dengan dugaan pelanggaran aturan pendanaan kampanye.

Agen juga menanyakan apakah mereka sebenarnya bermaksud menyumbangkan uang kepada senator petahana Dan S. Sullivan.

“Saya mengatakan kepada agen bahwa saya tidak akan melakukan itu,” ujar Holmes.

Donatur lainnya, Ed Wood, mengatakan bahwa dia menyumbangkan 1.000 dollar AS karena ingin membalas dukungan Dan J. Sullivan dan istrinya dalam perjuangan selama satu dekade untuk mencegah penebangan hutan di perbukitan yang menghadap Petersburg.

Sementara itu, Charles Flint, mantan penjual kapal, menggambarkan Dan J. Sullivan sebagai sosok berpikiran liberal yang terkadang memilih kandidat Partai Republik.

Flint menduga mantan guru tersebut mungkin sejak awal memahami bahwa peluangnya menang sangat kecil dan kehadirannya justru berpotensi mengganggu persaingan kandidat lain.

Strategi Kandidat Pengalih Suara Bukan Hal Baru di Alaska

Praktik merekrut kandidat untuk mengalihkan suara dari lawan politik bukan hal baru dalam sejarah politik Alaska.

Sistem pemilihan pendahuluan terbuka dan pemungutan suara pilihan berperingkat atau ranked-choice voting di negara bagian tersebut memberikan ruang bagi kandidat yang kurang terkenal untuk memengaruhi hasil persaingan, terutama ketika tidak ada calon yang memperoleh suara mayoritas.

Sekitar 60 persen dari 600.000 pemilih terdaftar di Alaska mengidentifikasi diri sebagai pemilih independen. Persentase tersebut termasuk salah satu yang tertinggi di Amerika Serikat.

Pada 2024, Partai Republik Alaska bahkan pernah berjuang agar seorang narapidana yang tidak memiliki hubungan dengan negara bagian tersebut tetap tercantum dalam surat suara sebagai kandidat Demokrat untuk kursi DPR AS yang saat itu diduduki Peltola.

Peltola akhirnya kalah dalam pemilihan tersebut.

Di tengah penyelidikan terbaru, tidak semua warga Petersburg membela Dan J. Sullivan.

Amanda Ohmer, seorang warga yang mengenal mantan guru tersebut, mengaku terkejut ketika ia mencalonkan diri sebagai anggota Partai Republik. Ohmer menilai Sullivan dikenal sebagai sosok liberal dan pernah mengikuti demonstrasi anti-Trump di kota tersebut.

Ia mendukung penyelidikan federal dan menilai praktik merekrut kandidat pengalih suara tidak dapat dibenarkan, siapa pun yang melakukannya.

“Ini licik. Hanya karena Partai Republik juga melakukannya, bukan berarti hal itu benar,” kata Ohmer.

Sementara itu, pada Minggu (1/11) hakim telah menolak gugatan federal pemerintahan Trump untuk menghidupkan kembali upaya menggugurkan pencalonan Dan J. Sullivan. Gugatan tersebut juga termasuk upaya menghalangi pengesahan hasil pemilu apabila Peltola menang.

Departemen Kehakiman AS langsung mengajukan banding atas putusan tersebut.

Di sisi lain, senator petahana Dan S. Sullivan berusaha memanfaatkan kontroversi ini dalam kampanyenya untuk meraih masa jabatan ketiga.

Saat menyambut anak-anak yang datang untuk meminta permen pada malam Halloween, Sabtu, ia bercanda dengan menyebut dia adalah Dan Sullivan asli, bukan kandidat palsu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ludes Terjual, Apple Belum Tahu Kapan iPhone Duo Kembali Tersedia

3 Nov 2026 - 11:19 WIB

Ludes Terjual, Apple Belum Tahu Kapan iPhone Duo Kembali Tersedia

AS dan Iran Ingin Damai, Netanyahu Justru Dorong Serangan Baru

3 Nov 2026 - 10:17 WIB

AS dan Iran Ingin Damai, Netanyahu Justru Dorong Serangan Baru

Pesawat Jet Jatuh dan Meledak di Florida, Sembilan Orang Tewas

3 Nov 2026 - 08:21 WIB

Pesawat Jet Jatuh dan Meledak di Florida, Sembilan Orang Tewas

FBI Tuduh Hacker Korea Utara Curi Ratusan Triliun Kripto Binance

2 Nov 2026 - 12:26 WIB

FBI Tuduh Hacker Korea Utara Curi Ratusan Triliun Kripto Binance

Hakim AS Larang Trump Intimidasi Petugas Pemilu

2 Nov 2026 - 11:03 WIB

Hakim AS Larang Trump Intimidasi Petugas Pemilu
Trending di Internasional