SLEMAN, 2 November 2026 – Gelombang boikot terhadap RANS Carnival berdampak pada penyelenggaraan festival tersebut di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (31/10).
Pada hari pertama pelaksanaan, festival yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari hingga 1 November 2026 itu terpantau sepi pengunjung. Kondisi tersebut terjadi setelah belasan musisi membatalkan penampilan dan sekitar 95 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menarik diri dari acara.
Gerakan boikot muncul setelah nama Raffi Ahmad menjadi sorotan di media sosial. Raffi, yang menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, dikritik karena kehadirannya dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Kamis (29/10).
Acara tersebut menuai kontroversi setelah sejumlah peserta yang mengenakan atribut almamater kampus diduga bukan mahasiswa, melainkan massa bayaran.
Kritik kemudian meluas ke berbagai platform media sosial, seperti X, Threads, dan Instagram. Sejumlah warganet menyerukan boikot terhadap kegiatan bisnis hiburan yang terafiliasi dengan Raffi Ahmad.
Belasan Musisi Batalkan Penampilan
Dampak boikot terlihat dari mundurnya sejumlah musisi yang sebelumnya dijadwalkan tampil di RANS Carnival.
Grup musik dan musisi yang membatalkan keikutsertaan antara lain Tipe-X, Guyon Waton, Masdddho, Orkes Melayu Wawes, serta Fourtune & RFRNDS.
Manajemen Tipe-X mengumumkan pembatalan melalui akun resmi mereka pada Sabtu (31/10).
“Kita mundur dari acara ini. Sampai jumpa di lain pesta. Salam X,” tulis manajemen Tipe-X.
Manajemen Guyon Waton juga menyampaikan keputusan serupa. Pembatalan dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan, kenyamanan, serta hubungan baik dengan masyarakat luas.
Pihak OM Wawes dan Masdddho turut mengumumkan pengunduran diri sebagai bentuk respons terhadap situasi sosial yang berkembang di Yogyakarta.
Sekitar 95 Persen Tenant UMKM Mundur
Gelombang pembatalan juga berdampak pada pelaku UMKM yang sebelumnya telah menyiapkan stan untuk berjualan selama festival.
Sekitar 95 persen tenant UMKM lokal dilaporkan memilih menarik diri dan membongkar perlengkapan dagangan mereka.
Sejumlah merek lokal, seperti Jeruk Lokal, Cuann.king, Kalapaa.id, dan Roti Gembong Gedhe, memutuskan menarik stok produk meskipun telah mempersiapkan bahan baku sejak jauh hari.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu (31/10) pukul 11.30 WIB, area festival di Stadion Maguwoharjo terlihat lengang.
Dari puluhan stan makanan yang disiapkan, hanya beberapa pedagang yang masih bertahan karena telah memiliki komitmen awal dengan penyelenggara.
Polisi Bantah Kerahkan Massa untuk Meramaikan Acara
Di tengah situasi tersebut, media sosial X diramaikan pesan berantai yang mengklaim adanya upaya pengerahan massa untuk meramaikan RANS Carnival.
Pesan tersebut menyebut warga ditawari uang saku Rp 50.000 hingga Rp 100.000 agar bersedia datang ke lokasi acara. Pesan itu juga sempat mencatut nama pejabat kepolisian setempat.
Kapolresta Sleman AKBP Dhimas Prasetyo membantah adanya mobilisasi atau pengerahan massa oleh kepolisian.
Ia menjelaskan, kehadiran personel di sekitar lokasi semata-mata untuk memberikan pelayanan pengamanan atas permohonan resmi penyelenggara.
“Pada prinsipnya kami dari Polresta Sleman memberikan pelayanan terhadap semua kegiatan masyarakat dengan perbantuan pengamanan dari personel Polresta Sleman, bukan dengan pengerahan massa dalam bentuk apa pun,” tegas Dhimas kepada awak media.
Raffi Ahmad Beri Klarifikasi soal Kehadirannya di Bundaran HI
Menanggapi kritik dan desakan boikot yang berkembang, Raffi Ahmad akhirnya menyampaikan klarifikasi tertulis melalui akun media sosial resminya pada Sabtu (31/10).
Raffi menjelaskan, kehadirannya dalam acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI hanya untuk memenuhi undangan yang baru diterimanya pada malam sebelum kegiatan berlangsung.
“Saya hadir dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda kemarin sebagai undangan yang informasinya baru saya terima pada malam sebelum acara. Saya tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara, serta tidak mengetahui detail susunan acara dan pihak-pihak yang hadir,” tulis Raffi.
Ia juga membantah tudingan bahwa dirinya ikut mengatur pemasangan atribut atau logo merek tertentu di lokasi acara.
Raffi menyatakan terbuka terhadap kritik masyarakat. Namun, ia berharap kritik tersebut disampaikan berdasarkan fakta yang objektif dan tidak menyeret persoalan pribadi maupun keluarganya.















