NEW MEXICO, 23 Oktober 2026 – Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, didenda sebesar 25 miliar dollar AS atau sekitar 400 triliun rupiah oleh hakim di New Mexico, Amerika Serikat, pada Rabu (21/10). Hakim menjatuhkan sanksi tersebut setelah persidangan menemukan bahwa perusahaan itu selama bertahun-tahun menyesatkan publik mengenai pengelolaan data pengguna Facebook.
Putusan tersebut jatuh setelah persidangan selama dua pekan yang berlangsung awal tahun ini. Hakim menyatakan, pernyataan menyesatkan Meta tidak hanya berkaitan dengan praktik pengelolaan data Facebook, tetapi juga menyentuh inti praktik bisnis perusahaan.
Kepala tim hukum Meta, CJ Mahoney, mengatakan putusan tersebut membuat perusahaan hampir tidak mungkin menjalankan bisnis di New Mexico. Meta berencana mengajukan banding atas putusan itu.
Mahoney menyatakan pihaknya yakin banding tersebut akan berhasil.
Denda ini menjadi sanksi terbesar yang pernah dijatuhkan kepada Meta atas praktik bisnisnya.
Berawal dari Skandal Cambridge Analytica
Gugatan Pemerintah New Mexico berawal dari skandal Cambridge Analytica, ketika perusahaan konsultan politik tersebut menggunakan data dan informasi jutaan pengguna Facebook dalam aktivitasnya, termasuk pekerjaan yang berkaitan dengan Pemilihan Presiden AS 2016.
Dalam gugatan tersebut, pemerintah negara bagian menuduh Meta menyesatkan masyarakat mengenai cara perusahaan membagikan dan mengendalikan data pengguna.
Pengacara pemerintah New Mexico juga menyoroti pernyataan sejumlah eksekutif Meta selama bertahun-tahun yang menyebut data pengguna tidak dibagikan atau diakses pihak ketiga tanpa izin. Menurut penggugat, kenyataannya tidak sesuai dengan pernyataan tersebut.
Juri menyimpulkan bahwa Meta telah melanggar undang-undang negara bagian lebih dari 40 juta kali. Pemerintah New Mexico menilai seluruh penduduk negara bagian itu, yang berjumlah sekitar dua juta orang, terdampak oleh ketidakjujuran perusahaan mengenai pengelolaan data.
Selain persoalan privasi, Meta juga dituduh menyesatkan publik mengenai manfaat yang diperoleh perusahaan dari konten yang mengandung ujaran kebencian serta penerapan aturan terhadap konten tersebut. Juri turut menyatakan perusahaan sengaja menyesatkan publik dalam persoalan itu.
Meta membantah tuduhan tersebut. Mahoney berpendapat gugatan itu pada dasarnya berupaya mengenakan semacam pajak terhadap kebebasan berekspresi untuk memberlakukan aturan baru mengenai hal-hal yang boleh disampaikan masyarakat di internet.
Jaksa Agung New Mexico, Raúl Torrez, mengatakan putusan tersebut menegaskan bahwa perusahaan besar tidak berada di luar jangkauan hukum.
“Tidak ada perusahaan yang terlalu kuat untuk dimintai pertanggungjawaban,” kata Torrez.
Hakim Kurangi Perhitungan Sanksi dari 219 Miliar Dollar AS
Dalam gugatan tersebut, pengacara pemerintah New Mexico meminta denda hingga 40 miliar dollar AS. Sebaliknya, Meta berargumen bahwa denda di atas 3,4 miliar dollar AS akan bertentangan dengan konstitusi.
Hakim Francis Mathew menyatakan pelanggaran dan pernyataan menyesatkan Meta mengenai penggunaan serta pembagian data Facebook berlangsung secara sengaja selama lebih dari 11 tahun, yakni dari 2010 hingga 2021.
Dalam putusannya, Mathew juga menyebut komunikasi di antara para eksekutif senior Meta, termasuk CEO Mark Zuckerberg, sengaja dibuat untuk menyesatkan publik.
Berdasarkan ribuan pelanggaran undang-undang negara bagian yang terhitung dalam perkara tersebut, nilai sanksi secara keseluruhan mencapai 219 miliar dollar AS. Namun, hakim mengurangi jumlah itu menjadi 25 miliar dollar AS.
Putusan tersebut menambah daftar perkara hukum yang sedang melanda Meta. Pada 2019, Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) menjatuhkan denda sebesar 5 miliar dollar AS kepada perusahaan itu terkait praktik privasi data.
New Mexico juga menjatuhkan denda hampir 1 miliar dollar AS kepada Meta pada tahun ini dalam perkara terpisah, terkait tuduhan menyesatkan publik mengenai keamanan platform media sosialnya bagi anak-anak.
Dalam perkara tersebut, hakim membandingkan Meta dengan pencemar lingkungan industri. Bentuk pencemarannya adalah dampak psikologis dan eksploitasi seksual terhadap anak-anak.
Meta Tetap Menggelontorkan Dana Besar untuk AI
Di tengah tekanan hukum, Meta terus meningkatkan investasi dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perusahaan itu memperkirakan pengeluaran tahun ini mencapai sedikitnya 135 miliar dollar AS, terutama untuk proyek-proyek AI. Jumlah tersebut berpotensi meningkat hingga 145 miliar dollar AS.
Zuckerberg mengatakan 10 juta orang telah menggunakan AI untuk konsumen yang bernama Muse. “Memperluas Muse agar dapat melayani miliaran orang merupakan misi sekaligus strategi kami,” kata Zuckerberg.
Besarnya investasi tersebut turut menekan arus kas perusahaan. Berdasarkan penelaahan BBC terhadap dokumen keuangan sebelumnya, Meta mencatat arus kas negatif lebih dari 2 miliar dollar AS. Laporan itu menyebut kondisi tersebut tampaknya menjadi yang pertama sejak perusahaan melantai di bursa saham 14 tahun lalu.
Arus kas menggambarkan uang yang tersisa setelah perusahaan membayar biaya operasional dan investasi. Dengan demikian, Meta mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang tersisa dari aktivitas dan investasinya, meskipun pendapatannya terus meningkat.
Pada periode Juli hingga September, pendapatan Meta naik 26 persen daripada tahun sebelumnya menjadi 64,5 miliar dollar AS. Labanya juga meningkat tiga kali lipat menjadi 9,8 miliar dollar AS.
















