JAKARTA, 30 Oktober 2026 — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap dugaan praktik jual-beli titik dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan nilai mencapai Rp 300 juta hingga Rp 350 juta.
Menurut Sudaryono, praktik tersebut melibatkan yayasan yang diduga menjadi perantara untuk memperoleh akses terhadap titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), meskipun tidak memiliki modal untuk membangun maupun mengoperasikan dapur.
Sudaryono mengatakan, praktik tersebut ditemukan setelah dirinya dipercaya menjabat sebagai Kepala BGN pada 22 Juli 2026.
“Titik dapur diperjualbelikan. Sebelum saya jadi Kepala BGN, sudah saya sering dengar Rp 350 juta, Rp 300 juta diperjualbelikan. Kemudian, yayasan calo ternyata banyak. Ini saya temukan setelah saya jadi Kepala BGN,” kata Sudaryono dalam agenda 100 Hari Kerja di Jakarta Selatan, Kamis (29/10).
Ia mengatakan, BGN kini memperbarui perjanjian kerja sama untuk memeriksa kembali peran yayasan dan mitra yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG.
Yayasan Diduga Minta Potongan dari Setiap Porsi MBG
Sudaryono menjelaskan, skema ideal pelaksanaan program MBG adalah mitra atau investor menyediakan modal untuk membangun dapur. Untuk menyalurkan bantuan pemerintah, mitra tersebut kemudian membentuk yayasan sesuai ketentuan kerja sama.
Namun, menurut dia, terdapat yayasan yang tidak memiliki modal untuk membangun dan menjalankan dapur, tetapi justru memperoleh akses terhadap titik SPPG.
“Yang terjadi adalah banyak oknum di BGN pusat yang lampau itu kemudian dia bikin banyak yayasan, nitip-nitipin titik-titik, tetapi tidak punya uang. Sementara orang yang ingin bangun dapur tidak punya akses untuk bisa dapat titik ke BGN. Ketemu lah ini,” ujar Sudaryono.
Ia menduga, yayasan yang tidak berperan langsung dalam pembangunan maupun operasional dapur tersebut kemudian meminta potongan dari setiap porsi makanan yang disalurkan.
“Ada yayasan-yayasan yang tidak punya peranan apa pun, hanya nitipi, nyalo, kemudian minta potongan per ompreng Rp 500, Rp 1.000, Rp 1.500 setiap omprengnya setiap hari kali sekian ribu kali sekian dapur,” tuturnya.
Sudaryono menilai, praktik tersebut berpotensi mengurangi dana yang semestinya digunakan untuk mendukung operasional dapur dan penyediaan makanan bagi penerima manfaat program MBG.
BGN Akan Evaluasi Kerja Sama dengan Yayasan
Untuk menindaklanjuti temuan tersebut, Sudaryono mengatakan BGN akan membersihkan pelaksanaan program dari yayasan yang dinilai tidak memiliki peran nyata dalam operasional dapur.
“Maka di era kita sekarang itu kami bersihkan semua, kami tidak peduli dengan yayasan itu punya siapa, selama yayasan itu tidak ada peranan, kami putus semuanya,” kata dia.
BGN, lanjut Sudaryono, akan memprioritaskan mitra yang benar-benar menginvestasikan dana, membangun fasilitas, dan menjalankan operasional dapur.
Ia menyebut langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar BGN mendukung mitra dan yayasan yang berkontribusi langsung terhadap pelaksanaan program pemerintah.
“Petunjuk Presiden Prabowo Subianto jelas, BGN berada pada sisi mitra yayasan yang berkeringat, yang berkorban, dia membangun dan mendukung program pemerintah,” ujarnya.
Melalui evaluasi kerja sama tersebut, BGN berupaya memastikan bahwa pelaksanaan program MBG didukung mitra yang berperan nyata dalam penyediaan fasilitas dan layanan makanan bergizi bagi masyarakat.















