WASHINGTON, 4 November 2026 – Amerika Serikat (AS) serang sejumlah target di Iran menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada Selasa (3/11). Serangan tersebut merupakan operasi terbatas di tengah upaya diplomasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari delapan bulan.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi serangan tersebut pada Senin (2/11). Ia mengatakan, operasi militer itu menargetkan pihak-pihak di Iran yang menggunakan rudal darat-ke-udara untuk menyerang pasukan AS di kawasan Selat Hormuz.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan terdengar ledakan di Pulau Qeshm dan Hengam, serta wilayah daratan Bandar Abbas yang berada di sekitar Selat Hormuz.
Berbeda dengan operasi militer sebelumnya, serangan kali ini tidak diumumkan secara terbuka oleh pemerintah AS.
Serangan AS Berlangsung di Tengah Upaya Negosiasi
Serangan tersebut terjadi ketika Iran menyatakan memiliki rencana dua hari untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan nuklir dengan Washington.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia pada masa damai.
Sebelum serangan dikonfirmasi, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pemerintahannya masih melihat peluang untuk mencapai kesepakatan melalui negosiasi.
“Kami berdua merasa cukup optimistis mengenai prospek tercapainya penyelesaian melalui negosiasi,” kata Vance, merujuk pada dirinya dan Presiden Donald Trump.
Trump sebelumnya menyatakan AS tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu.
Namun, perang yang tidak populer dan dampaknya terhadap harga bensin serta perekonomian AS menjadi persoalan politik bagi Partai Republik. Partai tersebut tengah berupaya mempertahankan kendali atas Kongres.
AS diketahui terakhir kali melancarkan serangan terhadap Iran pada awal September. Meski demikian, ribuan personel militer Amerika masih berada di perairan sekitar Iran untuk mempertahankan blokade laut yang bertujuan mencegah kapal tanker pengangkut minyak Iran memasuki pasar global.
Satu kapal induk tambahan beserta ribuan personel militer lainnya juga sedang menuju Timur Tengah.
Netanyahu Dorong Trump Lancarkan Serangan Baru
Di tengah ketegangan tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak Trump agar kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS.
Kembalinya perang skala penuh dengan Iran dinilai dapat membantu Netanyahu membentuk pemerintahan darurat. Hal itu menyusul kekalahan Netanyahu dan sekutu sayap kanannya yang kehilangan mayoritas parlemen dalam pemilihan Israel pekan lalu.
Sementara itu, upaya diplomatik antara AS dan Iran masih berlangsung melalui jalur komunikasi tidak langsung.
Dua pejabat regional mengatakan mediator tengah berupaya menyusun kerangka kesepakatan agar Iran menghentikan serangan di Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pembicaraan lanjutan masih akan berlangsung pekan ini.
Warga Iran Menanti Hasil Pemilu AS
Ketegangan dengan Washington membuat sebagian warga Iran turut memperhatikan pemilihan paruh waktu di AS. Mereka berharap hasil pemilu dapat membawa perubahan dalam kebijakan pemerintahan Trump terhadap Teheran.
Seorang warga Teheran berusia 69 tahun, Reza Rezaei, berharap masyarakat AS dapat mendorong perubahan kepemimpinan dan kebijakan luar negeri negaranya.
Ia menginginkan perubahan yang dapat menciptakan perdamaian dan stabilitas, bukan hanya bagi warga Amerika, tetapi juga masyarakat dunia.
Namun, warga Teheran lainnya, Raheleh Movahhed, tidak terlalu optimistis terhadap hasil pemilu tersebut.
Menurutnya, pergantian kekuasaan di AS belum tentu mengubah kebijakan Washington terhadap Iran.
Iran Siaga Hadapi Kemungkinan Perang Baru
Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan Teheran telah memberikan respons tegas dan rasional kepada pihak Amerika.
Televisi pemerintah Iran menyiarkan pernyataan itu pada Selasa (3/11). “Bola sekarang berada di pihak Amerika untuk mencegah perang,” kata Qalibaf.
Ia juga memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam tingkat kesiagaan pertahanan tertinggi.
Jika Washington kembali melakukan kesalahan strategis, Iran mengancam akan menghadapi AS dengan medan perang baru yang lebih sulit bagi Amerika.
Di tengah ancaman konflik lanjutan, pemerintah Iran juga meningkatkan persiapan paramiliter.
Iran membuka pusat pelatihan militer ketiganya di Teheran pada Senin. Pemerintah menargetkan pelatihan satu juta sukarelawan paramiliter di seluruh negeri.
Wakil Kepala Basij bidang pelatihan, Ali Kowsari, mengatakan sekitar 1.500 pangkalan pelatihan akan mulai beroperasi di berbagai kota dan wilayah Iran mulai pekan ini.
Basij merupakan pasukan paramiliter yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran.
















