ASUNCIÓN, 7 November 2026 – Mantan Presiden Paraguay Santiago Peña dijatuhi tahanan rumah pada Jumat (6/11) setelah dicopot dari jabatannya oleh Senat terkait dugaan penyalahgunaan kepercayaan dalam kasus runtuhnya Ueno Bank, lembaga keuangan besar yang memiliki keterkaitan dengan pemerintahannya.
Sebanyak 44 senator yang hadir sepakat memberhentikan Peña karena dinilai melakukan pelanggaran dalam menjalankan jabatan. Ia menjadi presiden Paraguay kedua yang dimakzulkan sejak negara tersebut kembali ke sistem demokrasi pada 1989.
Krisis politik itu terjadi setelah otoritas keuangan mengambil alih Ueno Bank pada Selasa (3/11). Keputusan tersebut membuat hampir separuh dari lebih dari 6 juta penduduk Paraguay tidak dapat mengakses tabungan maupun menggunakan kartu perbankan mereka.
Jaksa memerintahkan Peña tetap berada di kediamannya hingga menjalani pemeriksaan di unit kejahatan ekonomi pada Sabtu.
“Kami telah memastikan bahwa dia berada di tempat dan bersedia mengikuti seluruh proses hukum,” kata Silvia González, salah satu jaksa yang menangani perkara tersebut.
Dugaan pelanggaran kepercayaan yang disangkakan kepada Peña dapat diancam hukuman penjara hingga lima tahun. Dalam kasus berat, hukumannya dapat mencapai 10 tahun.
Mantan Kepala Bank Sentral Juga Diperintahkan Ditangkap
Perintah penangkapan juga diterbitkan terhadap Carlos Carvallo, mantan pimpinan perusahaan keuangan yang kemudian berkembang menjadi Ueno Bank.
Peña menunjuk Carvallo sebagai kepala bank sentral pada 2023. Namun, hingga laporan ini disusun, belum diketahui apakah Carvallo telah ditangkap.
Anggota parlemen menuduh Peña menggunakan pengaruh politiknya untuk mengalirkan dana publik senilai ratusan juta dollar AS ke Ueno. Mereka juga menuding regulator mengabaikan praktik pemberian pinjaman berisiko kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan bank tersebut.
Peña membantah melakukan pelanggaran.
Sementara itu, Wakil Presiden Pedro Alliana telah dilantik sebagai presiden pada Jumat untuk menyelesaikan sisa masa jabatan hingga Agustus 2028.
Alliana juga tengah diselidiki terkait keruntuhan Ueno Bank. Ia kini mewarisi pemerintahan yang menghadapi tekanan untuk mengembalikan dana nasabah dan menindak pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan bank tersebut.
Sebelum keputusan pemakzulan diumumkan, Peña menyampaikan pesan perpisahan dan berharap kepergiannya dapat mencegah Paraguay mengalami perpecahan lebih jauh.
“Saya tidak ingin keberadaan saya menjadi penyebab perpecahan atau ketidakstabilan yang lebih besar,” tulisnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih, sembari mengakui penderitaan masyarakat yang masih menunggu kepastian atas dana mereka.
Nasabah Kehilangan Akses Tabungan
Keruntuhan Ueno Bank memicu kemarahan masyarakat Paraguay. Para nasabah mendadak tidak dapat menarik uang tunai, mengakses tabungan, maupun menggunakan kartu untuk bertransaksi.
Bank digital tersebut sebelumnya agresif menarik nasabah dari kelompok masyarakat miskin dan mereka yang belum memiliki rekening bank. Salah satu strateginya adalah menawarkan potongan harga besar untuk pembelian di supermarket.
Menurut pihak Ueno, lebih dari 1 juta warga Paraguay membuka rekening bank pertama mereka melalui layanan tersebut.
Bahkan, sejumlah pemain tim nasional sepak bola Paraguay yang rekeningnya berada di Ueno mengaku turut terdampak. Bank tersebut merupakan sponsor tim nasional selama perjalanan mereka menuju kemenangan mengejutkan atas Jerman di Piala Dunia tahun ini.
Andrew Nickson, pakar Paraguay dari University of Birmingham, mengatakan dampak keruntuhan bank terhadap masyarakat sangat besar.
Menurutnya, kondisi tersebut memicu kemarahan warga yang sebelumnya tidak terlalu mengikuti perkembangan politik.
Sejumlah nasabah mulai mendapatkan kembali dana mereka pada Kamis. Tahap awal pengembalian diprioritaskan bagi nasabah dengan simpanan hingga 10 juta guaraní atau sekitar 1.500 dollar AS.
Dana simpanan dijamin hingga sekitar 35.000 dollar AS. Bank sentral menyatakan batas tersebut mencakup 97 persen nasabah Ueno.
Bank sentral juga menyebut keruntuhan Ueno sebagai kasus tersendiri dan menegaskan bahwa sistem keuangan Paraguay secara keseluruhan tetap aman.
Sebanyak 27 Orang Didakwa Terkait Keruntuhan Ueno
Selain perkara yang menyeret Peña, jaksa juga menangani kasus terpisah terhadap jajaran pimpinan Ueno Bank.
Sebanyak 27 orang, termasuk pendiri sekaligus mantan CEO bank tersebut, Miguel Vázquez, telah didakwa atas sejumlah tindak pidana, seperti dugaan penyalahgunaan kepercayaan dan percobaan penipuan.
Hakim memerintahkan enam mantan direktur, termasuk Vázquez, menjalani penahanan praperadilan. Dua orang lainnya dikenai tahanan rumah.
Penyidik juga menyita sembilan mobil mewah dari kediaman Vázquez, sebuah kapal pesiar, dan dua pesawat kecil yang terkait dengannya.
Selain itu, aparat menggeledah kantor kelompok bisnis milik Vázquez serta rumah sejumlah eksekutif di kawasan permukiman tertutup di luar ibu kota.
Ueno Berkembang dengan Dukungan Dana Publik
Dalam beberapa tahun, Ueno berkembang dari perusahaan yang tidak banyak dikenal menjadi salah satu bank terbesar di Paraguay berdasarkan jumlah simpanan.
Pertumbuhan tersebut didukung lebih dari 800 juta dollar AS dana publik. Ueno mengklaim telah merekrut lebih dari dua pertiga penduduk dewasa Paraguay sebagai nasabah.
Logo bank tersebut juga tersebar luas, mulai dari stadion sepak bola nasional hingga kartu pembayaran milik pedagang kaki lima.
Dalam dakwaan pemakzulan, anggota parlemen menyoroti kepemilikan saham Peña di perusahaan induk Ueno. Peña akhirnya melepas kepemilikan tersebut setelah mendapat tekanan pada tahun sebelumnya.
Mereka juga mempertanyakan keputusan Peña menunjuk Carvallo sebagai kepala bank sentral, lembaga yang bertugas mengawasi Ueno.
Selain itu, Peña dituduh membiarkan dana pensiun negara menyimpan 355 juta dollar AS di Ueno, melebihi batas yang diizinkan oleh hukum.
Sejumlah analis menilai hubungan di tingkat pemerintahan tersebut membantu melindungi Ueno dari pengawasan regulator, meskipun kekhawatiran terhadap kondisi keuangannya terus meningkat.
José Tomás Sánchez, profesor teori politik di National University of Asunción, mengatakan bank sentral selama dua dekade menjadi salah satu pilar kredibilitas internasional Paraguay dalam pengelolaan ekonomi.
Namun, menurutnya, lembaga tersebut mulai kehilangan kredibilitas dan netralitas di bawah pemerintahan Peña karena mekanisme pengawasannya diduga dilonggarkan untuk menguntungkan kelompok bisnis yang memiliki Ueno Bank.
Peña sendiri masih membela Ueno hanya beberapa pekan sebelum bank tersebut kolaps. Bulan lalu, ia mengatakan penyelidikan regulator tidak berarti bank akan ditutup dan menuduh media telah membuat masyarakat ketakutan.
Konflik dengan Mentor Politik Mempercepat Kejatuhan Peña
Kejatuhan Peña berlangsung sangat cepat. Pada akhir Oktober, ia masih mendapat sambutan sebagai sekutu Washington dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Namun, hanya dalam beberapa hari, posisinya berubah drastis.
Sebelum fajar pada Selasa, regulator mengambil alih Ueno. Pada Kamis sore, Peña menawarkan pengunduran diri setelah Partai Colorado yang konservatif mulai berbalik melawannya.
Tekanan tersebut dipimpin mantan Presiden Horacio Cartes, ketua partai sekaligus mentor politik Peña.
Pada Jumat, sejumlah pejabat penting pemerintahan Peña, termasuk menteri dalam negeri, kepala staf, penasihat hukum, dan penasihat politik, telah mengundurkan diri.
Senat kemudian memutuskan pemakzulan sehingga Peña tidak mendapatkan kekebalan hukum yang seharusnya masih melekat jika pengunduran dirinya diterima.
Drama Politik
Peña merupakan teknokrat yang pernah bekerja sebagai ekonom di Dana Moneter Internasional (IMF). Karier politiknya meningkat berkat dukungan Cartes, salah satu orang terkaya di Paraguay yang memiliki bisnis tembakau.
Cartes pernah mengangkat Peña sebagai menteri keuangan dan dua kali mendukung pencalonannya sebagai presiden meskipun mendapat penolakan dari faksi lain di partai.
Namun, setelah menjabat presiden, Peña disebut berusaha membangun basis kekuasaan sendiri dan keluar dari bayang-bayang Cartes. Ueno, yang mendapat aliran dana publik besar, menjadi salah satu bagian penting dari upaya tersebut.
Miguel Carter, Direktur DEMOS, lembaga penelitian di Paraguay, menggambarkan hubungan keduanya seperti drama Shakespeare.
“Dia mencoba menyingkirkan mentornya, pelindung politiknya. Namun, dia melakukannya dengan pijakan yang sangat rapuh,” kata Carter.
Cartes kemudian melancarkan serangan balik. Pada September, senator yang loyal kepadanya meminta bank sentral menjelaskan praktik pinjaman Ueno setelah muncul laporan internal yang bocor mengenai pinjaman kepada perusahaan terafiliasi dan risiko terhadap kemampuan bank memenuhi kewajibannya.
Ketika Ueno akhirnya kolaps, posisi politik Peña ikut runtuh. Cartes, yang sebelumnya pernah dijatuhi sanksi oleh Departemen Keuangan AS terkait dugaan korupsi, secara terbuka menyerukan agar mantan anak didiknya tersebut dicopot.
“Cartes-lah yang memberikan pukulan terakhir. Peña tidak memiliki basis politik untuk diandalkan dan akhirnya ditinggalkan begitu saja,” kata Nickson.














