SAO PAULO, 26 Oktober 2026 — Presiden petahana Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, kembali terpilih setelah memenangi pemilihan presiden putaran kedua yang berlangsung sengit, pada Minggu (25/10). Politikus sayap kiri tersebut mengalahkan rivalnya dari sayap kanan, Flávio Bolsonaro, dalam pemilu yang menunjukkan kuatnya perpecahan politik di negara Amerika Selatan itu.
Kemenangan ini menjadi yang keempat bagi Lula dalam pemilihan presiden. Ia sebelumnya menjabat selama dua periode, yakni Januari 2003 hingga Desember 2010, sebelum kembali memimpin Brasil sejak Januari 2023.
Namun, jalan Lula menuju kemenangan tidak mudah. Pada putaran pertama yang berlangsung 4 Oktober, Bolsonaro unggul atas dirinya. Banyak pihak semula menilai Lula akan kesulitan membalikkan hasil tersebut hanya dalam waktu tiga pekan.
Kampanyenya kemudian kembali menguat berkat demonstrasi di jalanan dan kampanye besar-besaran melalui media sosial.
Lula Menang di Tengah Tren Politik Sayap Kanan
Kemenangan Lula juga berbeda dari kecenderungan politik di sejumlah negara Amerika Latin. Di kawasan tersebut, pemilih belakangan menghukum petahana dan beralih mendukung kandidat konservatif.
Negara-negara besar seperti Argentina, Cile, dan Kolombia kini dipimpin tokoh-tokoh konservatif. Brasil menjadi satu-satunya negara besar di Amerika Selatan yang tidak dipimpin oleh pemimpin sayap kanan.
Lula, mantan pekerja industri logam yang menjadi tokoh dominan dalam politik kiri Brasil sejak pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden pada 1989, kini menghadapi lanskap politik yang lebih menantang dibandingkan ketika pertama kali menjabat pada 2003.
Masa jabatan barunya dijadwalkan dimulai pada 5 Januari 2027. Ia akan menghadapi berbagai tekanan dari dalam maupun luar negeri, termasuk hubungan yang tidak bersahabat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Hubungan dengan Amerika Serikat Jadi Tantangan
Trump tidak secara langsung menyatakan dukungan kepada Flávio Bolsonaro, berbeda dengan dukungannya terhadap kandidat sayap kanan yang kemudian memenangkan pemilihan presiden di Kolombia dan Honduras.
Meski demikian, pemerintahan Trump dipandang lebih menginginkan pemimpin konservatif untuk memimpin Brasil, negara berpenduduk sekitar 213 juta jiwa.
Gedung Putih menganggap Amerika Latin sebagai kawasan yang berada dalam lingkup pengaruh Amerika Serikat. Pemerintahan Trump juga berupaya mendorong pemimpin regional agar mendukung kebijakannya, terutama dalam bidang pertahanan, keamanan, dan perdagangan.
Washington turut berupaya membatasi pengaruh China di belahan bumi Barat.
Brasil memiliki kekayaan minyak serta cadangan mineral tanah jarang terbesar kedua di dunia. Lula sendiri selama ini dipandang memiliki hubungan yang bersahabat dengan China.
Dalam kampanyenya, Flávio Bolsonaro berjanji membawa Brasil lebih dekat dengan Washington. Sebaliknya, Lula memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mencampuri pemilihan presiden Brasil.
Ia menegaskan bahwa Brasil tidak akan pernah menjadi negara yang berada di bawah pengaruh pihak lain.
Kelompok Lingkungan Sambut Positif Kemenangan Lula
Di tengah kemungkinan kekecewaan Washington, para pegiat lingkungan menyambut baik kemenangan Lula.
Mereka sebelumnya khawatir kemenangan Flávio Bolsonaro akan memperkuat pengaruh sektor agribisnis dan pertambangan Brasil yang memiliki kepentingan besar terhadap pemanfaatan lahan dan sumber daya alam.
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan catatan deforestasi dan kebakaran hutan Amazon yang mencapai tingkat tinggi selama pemerintahan ayah Flávio, Jair Bolsonaro.
Para pegiat lingkungan menilai kebijakan yang lebih longgar di bawah kepemimpinan Flávio berpotensi kembali mempercepat kerusakan Amazon, salah satu ekosistem terpenting di dunia.
Brasil Tetap Terbelah Secara Politik
Meski pendukung Lula menyambut kemenangan tersebut dengan penuh sukacita, hasil pemilu menunjukkan bahwa Brasil masih terpolarisasi. Lebih dari 48 persen pemilih memberikan suara kepada Flávio Bolsonaro.
Lula kini menghadapi tugas berat untuk menyatukan masyarakat yang terbelah sekaligus menjalankan pemerintahan bersama Kongres yang dinilai paling condong ke kanan sepanjang era demokrasi Brasil.
Partai Liberal (PL) pimpinan Bolsonaro menjadi partai yang mencatatkan peningkatan perolehan terbesar dalam pemilu tersebut.
Di sisi lain, Partai Pekerja (PT) pimpinan Lula mampu menggelar rapat umum besar menjelang putaran kedua. Hal ini menunjukkan bahwa Lula masih memiliki dukungan akar rumput yang kuat.
Sebelum pemungutan suara, Lula menggambarkan pemilu tersebut sebagai momen yang akan menentukan arah masa depan Brasil.
Ia berjanji menjembatani perbedaan antara dua kubu politik melalui pendekatan pemerintahan yang baru.
Dalam siaran langsung melalui WhatsApp menjelang pemilu, Lula mengatakan bahwa Brasil tidak akan pernah sama lagi setelah pemilihan tersebut.
Meski tidak menjelaskan secara terperinci bentuk pemerintahan baru yang dijanjikannya, ia menegaskan komitmen untuk memperjuangkan negara yang lebih adil, memberikan kesempatan bagi semua orang, dan menjalankan kebijakan yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Tantangan Berat Menanti pada Masa Jabatan Keempat
Janji Lula untuk menyatukan Brasil berpotensi sulit untuk terwujud. Kekuatan politik sayap kanan yang mendominasi kongres dapat menghambat agenda pemerintahannya.
Kondisi tersebut membuat masa jabatan keempat Lula berpotensi menjadi periode paling menantang dalam perjalanan politiknya.
Pada akhir masa jabatan mendatang, Lula akan berusia 85 tahun. Dengan masyarakat yang masih terpolarisasi, Kongres yang kurang bersahabat, serta tekanan geopolitik dari luar negeri, keberhasilan pemerintahannya akan sangat bergantung pada kemampuannya membangun dukungan lintas kubu.
















