SYRACUSE, 24 Oktober 2026 — Seorang perempuan berusia 66 tahun di Syracuse, Negara Bagian New York, Amerika Serikat (AS), didakwa menjadi pemilih ilegal setelah diketahui bukan warga negara AS. Perempuan bernama Marva Cook itu mengaku baru mengetahui bahwa dia bukan warga negara AS ketika menelusuri identitas ibu kandungnya.
Kasus ini menjadi salah satu penangkapan yang disorot pemerintahan Presiden Donald Trump dalam upaya menindak pemilih yang bukan warga negara menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections.
Menurut berkas pengaduan pidana, Cook diadopsi ketika masih balita dan selama ini mengira dirinya merupakan warga negara AS. Namun, ketika mencari ibu kandungnya, ia menemukan akta kelahiran yang menunjukkan bahwa dia lahir di Jerman.
Jaksa federal menyatakan Cook telah memiliki kartu izin tinggal permanen atau green card selama beberapa tahun. Meski bukan warga negara AS, ia tetap memberikan suara dalam sejumlah pemilihan.
Di AS, pemegang green card (penduduk tetap legal) tidak bisa memberikan suara dalam pemilihan Presiden dan anggota Kongres.
Cook menghadapi dakwaan federal terkait pemungutan suara oleh orang asing, yang berasal dari partisipasinya dalam pemilu paruh waktu 2022.
Jika terbukti bersalah, Cook terancam hukuman maksimal satu tahun penjara dan denda hingga 100.000 dollar AS. Berdasarkan hukum federal, Cook juga berpotensi menghadapi deportasi.
Cook Mengaku Selama Ini Mengira Warga Negara AS
Saat dihubungi melalui telepon pada Jumat (23/10), Cook menolak membahas lebih jauh kasus pidana, riwayat pemungutan suaranya, maupun upaya yang pernah dilakukannya untuk memperoleh kewarganegaraan.
Namun, ia mengaku tidak senang dengan proses persidangan pada Rabu. Cook mengatakan dirinya dibawa ke pengadilan dalam keadaan diborgol, meskipun telah menyerahkan diri secara sukarela beberapa jam sebelumnya.
“Ini adalah masa yang sulit,” kata Cook. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat setempat. Sejumlah warga bahkan mendampinginya ketika menghadiri persidangan.
Cook mengatakan doa dan dukungan dari masyarakat membantunya menghadapi situasi tersebut.
Pengacaranya, Paul Tuck, juga menolak mengomentari rincian perkara. Ia menyebut belum ada jadwal sidang lanjutan atau tenggat pengajuan dokumen dalam waktu dekat.
Menurut Tuck, saat ini tidak ada proses imigrasi yang sedang berjalan terhadap Cook. Namun, kliennya telah memiliki pengacara imigrasi untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan situasi.
Penangkapan dalam Penindakan Pemilih Ilegal
Jaksa federal John A. Sarcone III, yang kantornya menangani perkara tersebut di wilayah utara New York, menyatakan penangkapan Cook menunjukkan bahwa kecurangan pemilu marak terjadi di negara bagian itu.
Sejumlah lembaga federal turut menyebarluaskan pernyataan tersebut melalui media sosial. Dalam salah satu unggahan di X, DHS menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan suara warga negara AS tersisih oleh nonwarga negara yang memberikan suara secara ilegal.
Namun, laporan investigasi pemerintah AS sendiri menunjukkan bahwa kasus pemungutan suara oleh nonwarga negara sangat jarang terjadi dan tidak terbukti mengubah hasil pemilu.
Penangkapan Cook berlangsung di tengah upaya pemerintahan Trump memperketat penindakan terhadap dugaan pemungutan suara ilegal oleh penduduk nonwarga negara.
Pada Senin sebelumnya, otoritas federal di California mendakwa lebih dari dua lusin penduduk tetap yang di tuduh memberikan suara secara ilegal atau mendaftarkan diri sebagai pemilih. Beberapa pekan sebelumnya, 10 orang juga menjadi obyek dakwaan di Minnesota atas dugaan pemungutan suara ilegal dalam tiga pemilu terakhir.
Pendukung Sebut Cook Bagian Penting dari Komunitas
Di tengah proses hukum tersebut, para pendukung Cook menggambarkannya sebagai sosok yang memiliki peran penting dalam komunitas tempat ia tinggal hampir sepanjang hidupnya.
Cook juga terkenal sebagai mantan pemain bola basket putri Universitas Syracuse. Departemen atletik universitas tersebut mengonfirmasi bahwa ia menjadi pencetak angka terbanyak tim pada musim 1979–1980, dengan rata-rata 15 poin per pertandingan.
Ia juga tercatat memegang rekor universitas untuk jumlah steal terbanyak dalam satu musim.
















