Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Perawat Tewas Diserang Saat Tangani Wabah Ebola di Kongo

badge-check

Seorang perawat menunggu untuk didesinfeksi di Clinique Universelle, di Bunia, Kongo timur. Sabtu, 13 Juni 2026. (Foto: NPR) Perbesar

Seorang perawat menunggu untuk didesinfeksi di Clinique Universelle, di Bunia, Kongo timur. Sabtu, 13 Juni 2026. (Foto: NPR)

KONGO, 26 Oktober 2026 — Seorang perawat tewas dan seorang petugas kesehatan mengalami luka parah setelah diserang ketika merespons laporan dugaan kasus wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut insiden tersebut sebagai serangan terbaru terhadap tenaga kesehatan yang berupaya menghentikan penyebaran wabah Ebola.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, serangan itu terjadi pada Sabtu (24/10) di Kota Bafwasende, Provinsi Tshopo, wilayah timur Kongo. Ia menyampaikan informasi tersebut melalui unggahan di platform X pada Minggu (25/10).

“Setiap orang yang bekerja untuk melindungi masyarakat dari penyakit mematikan ini harus dapat bekerja dengan bermartabat dan aman. Layanan kesehatan harus selalu dilindungi,” kata Tedros.

Direktur Regional WHO untuk Afrika, Dr. Mohamed Yakub Janabi, turut mengecam serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa informasi keliru dan ketakutan tidak boleh memicu kekerasan.

“Informasi yang salah dan ketakutan tidak boleh menjadi pemicu kekerasan,” tulis Janabi melalui X.

Wabah Ebola Paling Mematikan dalam Sejarah Kongo

Serangan terhadap petugas kesehatan menambah hambatan dalam upaya mengendalikan wabah Ebola yang berkembang pesat di Kongo.

Data terbaru Kementerian Kesehatan negara tersebut mencatat lebih dari 9.800 kasus, termasuk lebih dari 4.700 kematian, sejak wabah dimulai pada Mei. Angka tersebut menjadikan wabah kali ini sebagai yang paling mematikan dalam sejarah Kongo.

Bulan lalu, seorang politikus Kongo tewas setelah di aniaya di Provinsi Kivu Utara. Sebelum kejadian itu, ia secara terbuka membela upaya pemerintah dalam menangani Ebola.

Melalui sebuah acara radio, politikus tersebut menyerukan agar masyarakat mematuhi langkah-langkah penanggulangan wabah, terutama menjaga jarak fisik dan mencuci tangan.

Kejadian itu berlangsung setelah pemerintah menerapkan pendekatan penanganan wabah yang berpusat pada desa. Namun, upaya tersebut menghadapi penolakan dari sebagian warga yang menganggap Ebola sebagai rekayasa.

Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga menjadi persoalan. Hal ini berkaitan dengan penanganan wabah Ebola sebelumnya serta masalah korupsi yang telah berlangsung lama di negara tersebut.

Ketakutan dan Informasi Keliru Hambat Penanganan Wabah

Petugas penanggulangan wabah mengatakan, keraguan masyarakat terhadap keberadaan dan bahaya Ebola mempersulit upaya mereka untuk bekerja sama dengan penduduk setempat.

Hambatan tersebut terutama terasa di daerah terpencil dan wilayah yang mulai menjadi titik penyebaran baru. Sejumlah daerah itu juga menghadapi keterbatasan pasokan medis dan tenaga kesehatan.

Pada Mei, ketika wabah mulai merebak, dua tenda di fasilitas kesehatan dibakar dalam dua serangan terpisah yang dilakukan warga yang marah hanya dalam waktu satu pekan.

Petugas yang terlibat langsung dalam penanganan wabah sebelumnya juga melaporkan bahwa sejumlah anggota tim respons pernah di sandera di beberapa zona kesehatan. Tim yang bertugas melakukan pemakaman secara aman dan bermartabat turut menghadapi ancaman.

Rentetan kekerasan tersebut menunjukkan tantangan yang merintangi tenaga kesehatan dalam menangani wabah Ebola di Kongo. Selain keterbatasan sumber daya medis, mereka juga harus bekerja di tengah ketakutan, ketidakpercayaan, dan risiko keselamatan.

WHO menegaskan bahwa tenaga kesehatan harus dapat menjalankan tugasnya dengan aman agar upaya melindungi masyarakat dan menghentikan penyebaran penyakit mematikan tersebut dapat terus berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Dua Uskup AS Menyesal Bertemu Trump, Dipolitisasi Jelang Pemilu Paruh Waktu

26 Okt 2026 - 16:49 WIB

Dua Uskup AS Menyesal Bertemu Trump, Dipolitisasi Jelang Pemilu Paruh Waktu

Lula da Silva Kembali Terpilih Jadi Presiden Brasil

26 Okt 2026 - 11:10 WIB

Lula da Silva Kembali Terpilih Jadi Presiden Brasil

Polisi India Tembak Ratusan Pencuri Sapi, Dugaan Diskriminasi Terhadap Komunitas Muslim Menguat

25 Okt 2026 - 11:01 WIB

Polisi India Tembak Ratusan Pencuri Sapi, Dugaan Diskriminasi Terhadap Komunitas Muslim Menguat

Nama Mirip Bisa Pecah Suara? Trump Gugat Pemilu Senat Alaska

25 Okt 2026 - 10:13 WIB

Nama Mirip Bisa Pecah Suara? Trump Gugat Pemilu Senat Alaska

Taktik Dalmas Polisi Perancis Tuai Kritik, Sebabkan Cacat Permanen

25 Okt 2026 - 09:03 WIB

Taktik Dalmas Polisi Perancis Tuai Kritik, Sebabkan Cacat Permanen
Trending di Internasional