ABUJA, 24 Oktober 2026 — Istri seorang diplomat Swiss dinyatakan positif Ebola di Nigeria. Perempuan berusia 42 tahun tersebut menjadi pasien pertama yang terkonfirmasi terinfeksi Ebola di negara itu dalam lebih dari satu dekade.
Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi bahwa perempuan kelahiran Uganda tersebut tinggal di ibu kota Nigeria, Abuja, dan dinyatakan positif Ebola pada 20 Oktober 2026.
Suaminya, yang merupakan diplomat Swiss, kini menjalani isolasi meski belum menunjukkan gejala. Sementara itu, seluruh 25 staf Kedutaan Besar Swiss di Nigeria dilaporkan dalam kondisi sehat dan tidak diwajibkan menjalani isolasi.
Kementerian Luar Negeri Swiss menyatakan keputusan tersebut diambil melalui konsultasi dengan Kementerian Kesehatan Nigeria dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kedutaan Swiss di Nigeria tetap beroperasi dengan menerapkan langkah-langkah kesehatan dan keselamatan.
Menurut WHO, perempuan tersebut sedang menjalani perawatan di ruang isolasi dan menunjukkan tanda-tanda membaik.
Asal Infeksi Ebola Belum Diketahui
Perempuan itu kembali ke Nigeria pada 3 Oktober setelah menghabiskan sekitar dua setengah pekan di Uganda. Ia mulai mengalami gejala empat hari setelah tiba di Abuja dan sempat menjalani perawatan di dua fasilitas kesehatan swasta sebelum dinyatakan positif Ebola.
Kementerian Luar Negeri Swiss mengatakan perempuan tersebut sempat dirawat sekitar sepekan di sebuah klinik swasta di Abuja sebelum diagnosisnya dipastikan.
Pihak berwenang menduga ia mungkin terpapar virus saat berada di Uganda. Namun, sumber penularannya belum dapat dipastikan.
Pemerintah Swiss juga menyatakan perempuan tersebut tidak bepergian ke Republik Demokratik Kongo (DR Kongo), berbeda dengan keterangan sebelumnya dari pejabat Uganda yang menyebut ia pernah melakukan perjalanan bisnis ke wilayah timur negara itu.
WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), serta Kementerian Kesehatan Nigeria mengatakan belum menerima informasi terverifikasi yang memastikan perempuan tersebut pernah mengunjungi DR Kongo.
WHO menyatakan masih terlalu dini untuk menentukan lokasi perempuan itu terinfeksi.
“Sumber paparannya masih belum diketahui. Riwayat perjalanan pasien masih sedang disusun,” kata Patrick Otim, pejabat tanggap darurat WHO.
Menurut Otim, penyelidikan menghadapi kendala karena kesempatan untuk mewawancarai pasien terbatas selama ia menjalani perawatan di rumah sakit.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nigeria (NCDC) kini melakukan pengurutan genom untuk membantu menentukan apakah infeksi tersebut berkaitan dengan kasus lain. Nigeria juga telah memastikan bahwa pasien terinfeksi spesies Ebola Bundibugyo, jenis yang sama dengan penyebab wabah di DR Kongo.
Penyelidik Telusuri Kemungkinan Hubungan dengan Kasus di Kenya
Penyelidik juga memeriksa kemungkinan perempuan tersebut pernah berpapasan dengan seorang pria asal Kenya yang meninggal akibat Ebola.
Pria itu diketahui melakukan perjalanan dari DR Kongo melalui Uganda sebelum tiba di Nairobi pada 3 Oktober. Ia meninggal tidak lama kemudian dan menjadi kasus kematian Ebola pertama yang tercatat di Kenya.
Africa CDC mengatakan penyelidik sedang memeriksa kemungkinan paparan melalui peralatan yang digunakan bersama atau bentuk kontak lainnya.
Kepala kesiapsiagaan dan tanggap darurat Africa CDC, Wessam Mankoula, menyebut kemungkinan tersebut sebagai salah satu skenario yang sedang diperiksa. Namun, ia menegaskan belum ada hubungan yang dipastikan antara kedua kasus.
Kenya kemudian mengonfirmasi delapan kasus Ebola lainnya. Direktur Jenderal Kesehatan Kenya, Patrick Amoth, mengatakan seluruh sembilan kasus yang terkonfirmasi berkaitan dengan pasien pertama dan belum ditemukan bukti penularan yang meluas di masyarakat.
Delapan pasien yang masih hidup dilaporkan menjalani isolasi dan merespons pengobatan dengan baik.
Amoth meminta masyarakat tetap waspada dan tidak panik. Namun, ia mengingatkan bahwa situasi belum sepenuhnya terkendali.
Sementara itu, otoritas Nigeria terus melacak orang-orang yang mungkin terpapar virus dari pasien tersebut. Penelusuran itu diperluas dari 44 orang yang sebelumnya telah diidentifikasi sebagai kontak.
Pergerakan Lintas Negara Jadi Perhatian
Perkembangan kasus di Nigeria dan Kenya kembali menyoroti risiko penyebaran penyakit lintas negara, terutama di wilayah perbatasan DR Kongo dan Uganda.
Ribuan orang melintasi perbatasan kedua negara setiap hari untuk berdagang, bekerja, dan mengunjungi keluarga.
Otim memperingatkan bahwa panjangnya perbatasan dan banyaknya jalur tidak resmi membuat petugas kesulitan memeriksa setiap orang yang masuk atau keluar dari kedua negara.
Direktur Regional WHO untuk Afrika, Mohamed Janabi, menyerukan peningkatan kewaspadaan di tingkat regional. Ia meminta negara-negara memperkuat pengawasan penyakit, menyelidiki kasus infeksi, serta melindungi petugas kesehatan yang berada di garis depan.
Uganda sendiri menyatakan tidak memiliki kasus Ebola aktif yang terkonfirmasi. Pemerintah negara itu juga menegaskan bahwa perjalanan pasien melalui wilayahnya tidak otomatis berarti ia terinfeksi di sana.
Bagaimana Ebola Menular?
Ebola merupakan penyakit virus serius yang dapat menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi, serta benda-benda yang terkontaminasi virus.
Virus ini tidak menyebar melalui udara seperti virus influenza. Gejalanya dapat berupa demam, kelemahan berat, muntah, dan diare. Penyakit ini juga dapat berakibat fatal.
Orang yang terinfeksi tidak dianggap menularkan virus sebelum gejala muncul.
Otoritas kesehatan menekankan pentingnya pelacakan kontak secara cepat, isolasi terhadap kasus yang dicurigai, dan pemberian perawatan sedini mungkin untuk mencegah penularan lebih lanjut.
















