eLmedia.id, 29 Oktober 2026 — Manusia mungkin bukan pelari tercepat di dunia satwa, tetapi bukan berarti selalu kalah dalam lomba lari lawan hewan. Kemampuan berlari sangat dipengaruhi oleh kecepatan puncak, akselerasi, massa tubuh, serta daya tahan dalam menempuh jarak jauh.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa banyak hewan mampu berlari jauh lebih cepat daripada manusia dalam jarak pendek. Cheetah, misalnya, dapat mencapai kecepatan sekitar 93 kilometer per jam (km/jam). Sementara itu, jerapah yang tampak memiliki tubuh besar dan kaki panjang mampu berlari hingga sekitar 57–60 km/jam.
Namun, ketika perlombaan berlangsung dalam jarak lebih jauh, kemampuan mempertahankan kecepatan menjadi faktor penting. Manusia memiliki sejumlah keunggulan dalam lari jarak jauh, terutama karena kemampuan tubuh membuang panas melalui keringat dan karakteristik biomekaniknya.
Lantas, hewan apa saja yang bisa dikalahkan manusia dalam lomba lari?
Kecepatan Lari Manusia Dibandingkan Hewan
Kecepatan maksimal manusia berbeda-beda, bergantung pada kondisi fisik dan kemampuan atletiknya. Untuk membandingkan manusia dengan hewan, para peneliti telah mengumpulkan data kecepatan lari ratusan spesies.
Data tersebut mencakup mamalia besar, burung, hewan pengerat, reptil, hingga laba-laba. Meski demikian, metode pengukuran yang digunakan tidak selalu sama sehingga hasilnya perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Dalam artikel BBC, sejumlah hewan dibandingkan dengan pelari berdasarkan catatan waktu lari 5 kilometer.
Berikut gambaran perbandingannya:
- 40 menit untuk 5 kilometer:kecepatan rata-rata pelari setara dengan kecepatan puncak seekor vole hutan.
- 30 menit untuk 5 kilometer:kecepatan tersebut sebanding dengan kecepatan maksimal tikus atau hamster.
- 25 menit untuk 5 kilometer:catatan waktu ini dibandingkan dengan kecepatan puncak mencit rumah atau iguana laut.
- 20 menit untuk 5 kilometer:pelari dengan catatan ini memiliki kecepatan rata-rata yang sebanding dengan kecepatan maksimal sigung bergaris atau marmot tanah.
Perbandingan tersebut menggunakan kecepatan puncak hewan, bukan kecepatan yang dapat dipertahankan sepanjang 5 kilometer. Karena hewan umumnya tidak mampu terus berlari pada kecepatan maksimalnya, hasil perlombaan sebenarnya bisa berbeda.
Mengapa Hewan Besar Tidak Selalu Lebih Cepat?
Secara intuitif, hewan dengan massa otot besar mungkin dianggap mampu berlari lebih cepat. Namun, penelitian yang dilakukan ahli biologi Myriam Hirt dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa hubungan antara ukuran tubuh dan kecepatan tidak sesederhana itu.
Dalam penelitian pada 2017, para peneliti menganalisis data kecepatan lari sekitar 350 spesies hewan darat. Mereka menemukan bahwa hewan terbesar tidak selalu menjadi yang tercepat.
Salah satu faktor yang memengaruhi kecepatan adalah akselerasi. Hewan bertubuh besar membutuhkan lebih banyak waktu dan energi untuk meningkatkan kecepatannya.
Massa tubuh yang besar juga membatasi kemampuan hewan mencapai kecepatan maksimal teoretisnya. Energi yang digunakan untuk mempercepat gerakan dapat menguras kemampuan otot sebelum kecepatan tertinggi tercapai.
Gajah Afrika, misalnya, mampu berlari hingga sekitar 35 km/jam. Namun, akselerasinya relatif lambat dibandingkan sejumlah hewan yang lebih kecil.
Berdasarkan basis data kecepatan dan akselerasi hewan yang dihimpun pada 2020, gajah Afrika diperkirakan membutuhkan sekitar 7,5 detik untuk mencapai kecepatan puncaknya. Dengan perhitungan sederhana, waktu yang dibutuhkan untuk menempuh 100 meter diperkirakan sekitar 14 detik.
Catatan itu masih mungkin dikalahkan oleh orang dewasa yang terlatih, meskipun hasil sebenarnya bergantung pada kondisi perlombaan dan kemampuan masing-masing pelari.
Cheetah Cepat, tetapi Tidak Tahan Berlari Lama
Jika hanya membandingkan kecepatan maksimal, manusia sulit bersaing dengan sejumlah hewan.
Cheetah dapat mencapai sekitar 93 km/jam, sedangkan burung unta mampu berlari hingga sekitar 82,8 km/jam. Rusa kutub bahkan dapat mencapai kecepatan sekitar 80 km/jam.
Sebagai perbandingan, kecepatan tertinggi Usain Bolt selama memecahkan rekor dunia lari 100 meter diperkirakan sekitar 44 km/jam. Kecepatan itu lebih tinggi daripada kecepatan puncak badak putih yang sekitar 40 km/jam, tetapi masih di bawah sejumlah hewan lain.
Meski demikian, kecepatan puncak tidak menentukan seluruh hasil perlombaan.
Cheetah merupakan pelari cepat yang mengandalkan sprint. Penelitian menggunakan kalung GPS pada cheetah liar menunjukkan bahwa hewan tersebut biasanya hanya mempertahankan kecepatan tertingginya selama beberapa detik. Jarak lari saat berburu umumnya kurang dari 200 meter.
Kondisi tersebut berbeda dari lari jarak jauh, yang membutuhkan kemampuan mempertahankan kecepatan tanpa cepat mengalami kelelahan.
Manusia Unggul dalam Daya Tahan Jarak Jauh
Menurut mantan atlet Olimpiade nomor 1.500 meter, Andy Baddeley, otot manusia memiliki karakteristik yang mendukung jenis aktivitas lari berbeda.
Serat otot cepat atau fast-twitch mampu menghasilkan gerakan eksplosif dan membantu pelari mencapai kecepatan tinggi. Namun, serat ini lebih cepat mengalami kelelahan.
Sebaliknya, serat otot lambat atau slow-twitch tidak menghasilkan tenaga seledak serat otot cepat, tetapi dapat bekerja lebih lama tanpa cepat lelah.
Perbedaan tersebut menjelaskan mengapa pelari spesialis sprint belum tentu unggul dalam jarak menengah atau jauh.
Baddeley memperkirakan dirinya mampu menempuh 100 meter dalam sekitar 11,7 detik ketika masih menjadi atlet nomor menengah. Ia mungkin tidak mampu menandingi pelari sprint elite dalam jarak pendek, tetapi dapat bersaing lebih baik pada jarak 500 meter dan memiliki keunggulan pada nomor spesialisasinya, 1.500 meter.
Kemampuan mempertahankan kecepatan juga ditemukan pada sejumlah hewan.
Antelop pronghorn, misalnya, pernah tercatat menempuh jarak 11 kilometer dalam 10 menit, dengan kecepatan rata-rata sekitar 65 km/jam. Kemampuan tersebut berkaitan dengan kebutuhan hewan mangsa untuk melarikan diri dari predator.
Pada manusia, kemampuan berlari jarak jauh didukung oleh biomekanika tubuh serta kemampuan berkeringat untuk membantu mengatur suhu. Sejumlah ahli evolusi menduga karakteristik tersebut berkembang sebagai bagian dari kemampuan manusia mengejar dan melelahkan mangsa dalam jarak panjang.
Bisakah Manusia Mengalahkan Anjing Husky dan Kuda?
Dalam perlombaan maraton, manusia masih harus menghadapi persaingan dari hewan yang memiliki daya tahan tinggi.
Anjing husky mampu menempuh jarak sangat jauh dalam perlombaan kereta salju. Berdasarkan waktu yang dicapai dalam perlombaan dengan jarak setara maraton, anjing-anjing tersebut berpotensi mengalahkan rekor dunia maraton manusia dengan selisih lebih dari 30 menit. Tanpa beban kereta salju, kecepatannya diperkirakan dapat lebih tinggi.
Kuda yang dilatih untuk ketahanan juga mampu mengalahkan sebagian besar pelari manusia dalam maraton di medan datar. Namun, hasilnya dapat berubah bergantung pada kondisi lintasan.
Di Wales, Inggris, terdapat perlombaan tahunan manusia melawan kuda dengan rute pegunungan sepanjang sekitar 35 kilometer. Kuda biasanya menang, tetapi manusia sesekali berhasil mencapai garis finis lebih dahulu.
Untuk jarak yang jauh lebih ekstrem, seperti ultramaraton, anjing husky juga memiliki kemampuan luar biasa.
Dalam Iditarod Trail Sled Dog Race di Alaska, tim peserta menempuh sekitar 1.600 kilometer. Rekor perlombaan tersebut tercatat sekitar tujuh hari 14 jam, meskipun perlombaan dilakukan menggunakan tim anjing dan tidak seluruhnya dapat dibandingkan langsung dengan pelari manusia.
Sebagai perbandingan, rekor Iditarod Trail Invitational, perlombaan dengan jarak serupa yang juga dapat ditempuh manusia dengan berjalan kaki, adalah 19 hari, 9 jam, dan 38 menit.
Jadi, Siapa Pemenang Lomba Lari Manusia Melawan Hewan?
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua perlombaan. Hasilnya bergantung pada jarak, kemampuan akselerasi, kecepatan maksimal, daya tahan, dan kondisi lintasan.
Dalam sprint, manusia akan kesulitan menghadapi cheetah, burung unta, jerapah, atau banyak hewan lain yang memiliki kecepatan puncak lebih tinggi.
Namun, pada jarak menengah, kemampuan mempertahankan kecepatan mulai berperan. Untuk jarak maraton dan ultramaraton, manusia memiliki keunggulan daya tahan dibandingkan banyak spesies, tetapi tetap dapat dikalahkan hewan seperti husky dan kuda yang memiliki kemampuan berlari jarak jauh.
Dengan demikian, kecepatan tertinggi bukan satu-satunya penentu kemenangan. Dalam lomba lari, kemampuan mempertahankan tenaga hingga garis finis sama pentingnya dengan seberapa cepat seseorang atau seekor hewan dapat berlari.
sumber: BBC














