Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Hacker Binance Gunakan Wawancara Kerja Palsu untuk Bobol Keamanan

badge-check

Hacker Binance Gunakan Wawancara Kerja Palsu untuk Bobol Keamanan Perbesar

JAKARTA, 5 November 2026 – Hacker yang mencuri aset kripto senilai 6,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 114 triliun dari Binance menggunakan modus wawancara kerja palsu dan memanfaatkan perangkat kecerdasan buatan (AI) internal yang telah disusupi.

Temuan awal yang dipublikasikan Binance, perusahaan yang mengoperasikan bursa mata uang kripto terbesar di dunia, mengungkapkan bahwa peretasan tersebut dilakukan melalui kampanye serangan siber bertahap dan terencana.

Para pelaku menggunakan berbagai teknik, termasuk mengelabui karyawan agar mengunduh perangkat lunak berbahaya. Mereka kemudian mengambil alih komputer milik para teknisi Binance dan mengakses perangkat yang digunakan untuk menguras dompet kripto perusahaan.

Binance menyebut insiden tersebut sebagai gangguan keamanan serius dengan tingkat kecanggihan tinggi. Perusahaan juga menyampaikan permintaan maaf kepada para penggunanya.

“Ini seharusnya tidak terjadi,” tulis Binance dalam pernyataannya.

Hacker Gunakan Wawancara Kerja Palsu

Dalam unggahan di platform X, Binance menjelaskan bahwa para peretas menargetkan para insinyur perusahaan menggunakan teknik rekayasa sosial atau social engineering.

Metode ini memanfaatkan manipulasi psikologis untuk mengelabui korban agar memberikan informasi sensitif atau melakukan tindakan yang dapat membuka akses ke akun dan sistem mereka.

Salah satu insinyur Binance dihubungi melalui platform pencarian kerja yang sah. Ia kemudian diundang mengikuti wawancara kerja palsu dengan orang-orang yang mengaku sebagai perwakilan perusahaan.

Para pelaku menggunakan sejumlah cara untuk membangun kepercayaan korban. Salah satunya dengan membagikan akun media sosial yang memuat foto-foto pribadi.

Dalam wawancara kedua, insinyur tersebut diminta mengunduh sebuah file yang disebut sebagai tugas atau assignment.

File itu ternyata berisi perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menyamarkan kode sehingga sulit terdeteksi oleh sistem keamanan.

Setelah komputer teknisi tersebut berhasil disusupi, para peretas memanfaatkan perangkat itu bersama sebuah alat AI internal Binance untuk memperoleh kendali atas laptop milik dua teknisi lainnya.

Dari akses tersebut, pelaku kemudian menjalankan tahapan lanjutan serangan hingga berhasil menguras aset kripto dari dompet perusahaan.

Binance Sempat Hentikan Penarikan Kripto

Dampak serangan tersebut membuat Binance menghentikan sementara layanan penarikan aset bagi pelanggan di seluruh dunia. Pengguna tidak dapat menarik mata uang kripto mereka dari platform sampai layanan kembali pulih pada Minggu (1/11).

Setelah layanan dibuka kembali, pelanggan menarik aset kripto senilai miliaran dollar AS dari platform tersebut.

Binance menyampaikan permintaan maaf atas gangguan dan ketidakpastian yang dialami pengguna, mitra, serta industri kripto secara luas.

Perusahaan mengatakan telah mengambil sejumlah langkah untuk menangani insiden tersebut, termasuk bekerja sama dengan aparat penegak hukum guna melacak dan membekukan aset yang terdampak.

Binance juga menyatakan telah menyediakan dana lebih dari 100 persen dari nilai kerugian untuk menutup dampak insiden. Hingga Sabtu (31/10), sebanyak 98 persen aset token yang terdampak disebut telah dipulihkan atau diganti kembali.

Peretasan tersebut menjadi pencurian kripto terbesar yang pernah terjadi hingga saat ini.

AS Tuduh Korea Utara Terlibat

Badan penegak hukum Amerika Serikat, termasuk FBI dan Secret Service, membantu Binance melacak aset kripto yang dicuri dari dompet milik perusahaan.

Sejumlah lembaga tersebut bersama analis keamanan siber menilai serangan itu memiliki pola yang mengarah pada keterlibatan Korea Utara, sebagaimana sejumlah peretasan besar sebelumnya.

Namun, Pyongyang membantah tuduhan tersebut pada Selasa (3/11).

Kim Yo Jong, pejabat senior Korea Utara sekaligus saudara perempuan pemimpin negara itu, menyebut tuduhan tersebut sebagai upaya jahat Amerika Serikat untuk merusak citra negaranya.

Korea Utara secara konsisten membantah tuduhan keterlibatan mereka dalam sejumlah serangan siber besar dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu kelompok peretas yang dikaitkan dengan Korea Utara adalah TraderTraitor, yang juga dikenal sebagai Lazarus Group. Kelompok tersebut sebelumnya dituding bertanggung jawab atas peretasan bursa kripto Bybit pada 2025 dengan nilai kerugian mencapai 1,5 miliar dollar AS.

Dalam unggahan di X pada Selasa, Binance menyatakan bahwa FBI merilis informasi terbaru yang menunjukkan Korea Utara bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Binance Tingkatkan Keamanan Berbasis AI

Setelah serangan tersebut, Binance berencana meningkatkan investasi pada perangkat AI yang dapat mendeteksi ancaman keamanan siber.

Perusahaan juga akan melibatkan pakar keamanan siber independen untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap insiden tersebut.

Selain itu, Binance berencana membentuk dana penelitian keamanan dan menjalin kerja sama dengan perusahaan AI serta keamanan siber terkemuka untuk mengembangkan berbagai inisiatif perlindungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Hasil Midterm Elections AS 2026: Demokrat Kuasai Senat dan DPR

5 Nov 2026 - 10:12 WIB

Hasil Midterm Elections AS 2026: Demokrat Kuasai Senat dan DPR

Hacker Kendalikan Freezer Supermarket, Seberapa Aman Mobil Kita?

5 Nov 2026 - 08:03 WIB

Hacker Kendalikan Freezer Supermarket, Seberapa Aman Mobil Kita?

Presiden ICC Tantang Trump: Sanksi AS Tak Akan Hentikan Pengadilan Internasional

4 Nov 2026 - 11:02 WIB

Presiden ICC Tantang Trump: Sanksi AS Tak Akan Hentikan Pengadilan Internasional

AS Serang Iran Jelang Pemilu, Ledakan Terdengar di Selat Hormuz

4 Nov 2026 - 10:21 WIB

AS Serang Iran Jelang Pemilu, Ledakan Terdengar di Selat Hormuz

Ludes Terjual, Apple Belum Tahu Kapan iPhone Duo Kembali Tersedia

3 Nov 2026 - 11:19 WIB

Ludes Terjual, Apple Belum Tahu Kapan iPhone Duo Kembali Tersedia
Trending di Internasional