JAKARTA, 5 November 2026 – Serangan siber oleh hacker yang menyasar lemari pendingin dan freezer supermarket di sejumlah negara Eropa memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan perangkat yang terhubung ke internet.
Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa perangkat sehari-hari, mulai dari lemari es, sistem pemanas ruangan, hingga mesin cuci pintar, berpotensi menjadi sasaran serangan siber.
Perangkat yang terhubung ke internet memang memungkinkan penggunanya melakukan pengaturan dan pemantauan dari jarak jauh. Namun, konektivitas tersebut juga dapat membuka celah bagi pelaku kejahatan siber untuk mengeksploitasinya.
Meski demikian, bukan berarti peretas dapat dengan mudah mengambil alih kendali perangkat tersebut. Produsen teknologi besar umumnya melakukan berbagai upaya untuk memastikan produk mereka memiliki sistem keamanan yang memadai.
Pernah Terjadi Satu Dekade Lalu
Kerentanan pada perangkat rumah tangga pintar sebenarnya bukan hal baru. Pada 2015, sejumlah peneliti menunjukkan bahwa celah keamanan pada lemari es pintar Samsung dapat dimanfaatkan untuk menyadap lalu lintas data internet.
Namun, hingga kini belum ada bukti bahwa perangkat rumah tangga juga menjadi sasaran dalam serangan siber seperti yang menyerang supermarket pada November ini.
Mantan Kepala Eksekutif Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC), Ciaran Martin, menilai produsen perlu bertindak untuk meningkatkan keamanan perangkat yang terhubung ke internet.
“Ada lebih banyak hal yang perlu kita tuntut dari perusahaan teknologi besar agar mereka menyediakan perangkat dan produk yang lebih aman sejak awal,” kata Martin.
Ia menyarankan konsumen untuk selalu memperbarui perangkat lunak dan mengaktifkan autentikasi multifaktor jika tersedia.
“Saya tahu itu merepotkan, tetapi hanya membutuhkan beberapa detik,” ujarnya.
Inggris Wajibkan Produsen Penuhi Standar Keamanan
Sejak April 2024, Inggris memberlakukan aturan yang mewajibkan produsen perangkat pintar konsumen tertentu memenuhi standar keamanan siber minimum. Ketentuan tersebut mencakup persyaratan terkait kata sandi dan pembaruan keamanan.
NCSC menyatakan tengah bekerja sama dengan mitra internasional dan industri untuk memahami insiden yang menimpa supermarket tersebut. Namun, lembaga itu belum mengetahui dampak serangan itu terhadap Inggris.
Meski begitu, peneliti dari UK Cyber Defence menemukan lebih dari 800 antarmuka sistem pendingin dan pengendali gedung milik peritel Inggris yang dapat di akses melalui internet publik.
Temuan tersebut tidak serta-merta berarti seluruh perangkat itu dapat diretas. Namun, akses yang terbuka berpotensi memberikan peluang bagi penyerang untuk mengeksploitasi kata sandi yang lemah atau celah perangkat lunak.
Pemerintah Inggris sebelumnya juga telah mengadakan pembicaraan dengan sejumlah pimpinan perusahaan ritel makanan mengenai ketahanan terhadap serangan siber.
Serangan Siber Bisa Mengganggu Pasokan Makanan
Serangan siber terhadap sektor ritel bukan pertama kali ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan makanan. Pada Mei 2025, supermarket Inggris M&S dan Co-op menjadi sasaran serangan ransomware.
Insiden tersebut membuat kedua perusahaan kesulitan mengisi sejumlah rak toko dengan pasokan produk segar. Pelanggan di berbagai wilayah Inggris mengeluhkan rak-rak toko yang kosong dalam beberapa hari setelah serangan.
Peneliti dari perusahaan keamanan siber SentinelOne, Tom Hegel, mengatakan perusahaan ritel perlu memperjelas pihak yang bertanggung jawab atas keamanan perangkat.
“Pertanyaan yang perlu dijawab peritel adalah siapa yang bertanggung jawab atas keamanan peralatan tersebut, bukan hanya siapa yang memperbaikinya,” kata Hegel.
Menurut dia, konektivitas internet memang membuat teknologi sehari-hari lebih praktis. Namun, peningkatan keamanan harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi.
“Begitu penyerang dapat mengoperasikan sistem kendali tersebut, fungsi standar seperti pencairan bunga es dapat menjadi alat untuk mengganggu operasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, perubahan pengaturan perangkat dapat merusak persediaan barang secara fisik, bukan sekadar mengganggu sistem komputer.
Mobil hingga Pembangkit Listrik Juga Berisiko
Risiko serangan siber tidak hanya mengancam perangkat rumah tangga dan supermarket. Mesin industri dan kendaraan yang menggunakan teknologi yang terhubung ke internet juga berpotensi mengalami peretasan.
Pakar keamanan siber Ken Munro mencontohkan demonstrasi pada 2015 ketika peneliti berhasil meretas mobil Jeep dari jarak jauh melalui sistem hiburan kendaraan yang terhubung ke internet.
Menurut Munro, industri otomotif kemudian menyadari persoalan tersebut dan melakukan perbaikan untuk meningkatkan keamanan kendaraan.
“Untungnya, industri kendaraan menyadari hal ini dan memperbaiki masalah tersebut,” katanya.
Koneksi seluler juga banyak digunakan untuk memantau peralatan di pembangkit listrik dan jaringan air. Teknologi ini memungkinkan teknisi mengelola sistem dari jarak jauh.
Munro menilai perusahaan utilitas di Inggris secara umum telah memiliki sistem keamanan yang cukup baik untuk melindungi koneksi tersebut. Namun, standar keamanan di berbagai negara masih berbeda-beda.
Ia paling mengkhawatirkan perusahaan utilitas kecil dengan pendanaan terbatas yang mungkin masih menggunakan peralatan lama dan rentan terhadap serangan.
Pakar keamanan siber dari Zscaler, Olivier Daloy, mengatakan berbagai fasilitas yang terhubung ke internet dapat menghadapi risiko serupa apabila tidak dilengkapi perlindungan yang memadai.
















