Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Asian Games di Jepang Banyak Masalah, Apa Penyebabnya?

badge-check

Unit kontainer yang digunakan untuk menampung sebagian peserta karena pihak penyelenggara memilih untuk tidak membangun perkampungan atlet tradisional.   Perbesar

Unit kontainer yang digunakan untuk menampung sebagian peserta karena pihak penyelenggara memilih untuk tidak membangun perkampungan atlet tradisional.

NAGOYA, 23 Oktober 2026 – Asian Games 2026 di Nagoya dan Prefektur Aichi, Jepang, penuh masalah. Mulai dari tempat menginap atlet yang terbatas, kesalahan transportasi, hingga insiden lagu kebangsaan yang membuat sejumlah negara peserta kecewa.

Jepang sebenarnya punya pengalaman panjang dalam menggelar acara internasional, termasuk Olimpiade. Namun, berbagai masalah dalam Asian Games kali ini memunculkan kritik terhadap kemampuan panitia mengelola ajang olahraga berskala besar.

Di media sosial, sejumlah orang bahkan menyebutnya sebagai “Asian Games terburuk dalam sejarah” dan meminta penyelenggaraan acara tersebut diselidiki.

Kozo Tomiyama, profesor Osaka University yang meneliti penyelenggaraan acara olahraga besar, menilai panitia kesulitan menghadapi berbagai masalah yang muncul di luar perkiraan.

Menurut dia, masalah tersebut bisa memengaruhi kepercayaan negara lain terhadap kemampuan Jepang menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional di masa depan.

Wakil Direktur Jenderal Asian Games, Takaaki Omi, mengakui panitia menghadapi banyak persoalan. Namun, ia mengatakan penyelenggara terus menerima masukan dan melakukan perbaikan selama pertandingan berlangsung.

Atlet Kesulitan Mendapatkan Tempat Menginap

Masalah sudah muncul bahkan sebelum pertandingan dimulai. Sejumlah peserta mengeluhkan kurangnya kamar dan kondisi penginapan yang dinilai kurang nyaman.

Untuk menghemat biaya, panitia memutuskan tidak membangun kompleks khusus tempat tinggal atlet seperti yang biasa digunakan dalam ajang olahraga besar. Sebagai gantinya, peserta ditempatkan di hotel dan bangunan berbentuk kontainer yang tersebar di Nagoya.

Seorang pejabat tinggi bola basket Korea Selatan mengeluhkan kondisi tempat tidur di unit kontainer. Menurut dia, atlet bertubuh tinggi kesulitan meluruskan kaki saat tidur.

Situasi semakin rumit ketika jumlah peserta bertambah pada menit-menit terakhir. Panitia akhirnya menggunakan kapal pesiar asal Italia dengan 1.500 kabin untuk menambah tempat menginap.

Omi menjelaskan, awalnya panitia hanya menyiapkan akomodasi untuk 15.000 anggota delegasi. Namun, penambahan cabang olahraga membuat jumlah peserta meningkat sekitar 2.000 orang menjadi 17.000 orang.

Awalnya, panitia mengatakan tidak memiliki tempat untuk menampung peserta tambahan tersebut dan meminta mereka mencari penginapan sendiri.

Setelah mendapat kritik, panitia bersama Dewan Olimpiade Asia (OCA) akhirnya menyatakan seluruh peserta akan mendapatkan tempat menginap yang sesuai untuk ajang olahraga tersebut.

Atlet Salah Venue, Lagu Kebangsaan Tertukar

Masalah tidak berhenti pada penginapan. Selama pertandingan berlangsung, sejumlah atlet dilaporkan diantar ke lokasi pertandingan yang salah.

Kesalahan juga terjadi ketika lagu kebangsaan Korea Utara diputar untuk tim hoki putra Korea Selatan.

Dalam upacara penyerahan medali emas sepak bola putra, bendera Korea Selatan juga tidak dikibarkan dengan benar. Sementara itu, Menteri Olahraga Taiwan sempat tidak diperbolehkan mengikuti acara pengibaran bendera.

Menjelang penutupan Asian Games, para sukarelawan menerima email yang mengundang mereka menghadiri upacara penutupan secara gratis. Namun, seorang penyelenggara kemudian mengatakan pembagian tiket gratis itu belum disetujui dan masih dalam tahap peninjauan.

Omi mengakui berbagai kejadian tersebut membuat sejumlah delegasi merasa tidak nyaman. Ia mengatakan mengelola acara sebesar Asian Games merupakan tantangan besar bagi panitia.

Menurut dia, penyelenggara berusaha mendengarkan keluhan atlet dan memperbaiki fasilitas maupun layanan selama pertandingan berlangsung.

Panitia juga akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Korea Selatan atas sejumlah kesalahan yang berdampak pada delegasi negara tersebut.

Perusahaan Pengelola Ikut Disorot

Berbagai masalah tersebut membuat media lokal Jepang menyoroti GL Events, perusahaan asal Prancis yang menangani operasional lokasi pertandingan melalui anak usahanya di Jepang.

GL Events memenangkan kontrak senilai 63 miliar yen atau sekitar tujuh triliun rupiah. Perusahaan itu mengalahkan Dentsu Group, perusahaan periklanan Jepang yang sudah lama berpengalaman mengelola acara olahraga besar.

Dentsu sebelumnya tersisih setelah tersangkut kasus pengaturan tender.

Seorang sumber kepada kantor berita Kyodo mengatakan penawaran GL Events jauh lebih murah daripada perusahaan lain.

Pekan lalu, surat kabar Tokyo Shimbun menuduh GL Events terlalu banyak memangkas biaya perekrutan sehingga kekurangan staf berpengalaman. Surat kabar itu juga menyebut sejumlah pekerja tidak mendapat pelatihan yang memadai untuk menghadapi masalah selama pertandingan.

Namun, Omi mengatakan GL Events memiliki pengalaman menangani acara olahraga internasional, termasuk Olimpiade Paris.

Tomiyama juga menilai masalah tersebut tidak bisa langsung dianggap sebagai akibat kurangnya pengalaman perusahaan. Menurut dia, tanggung jawab yang diberikan kepada GL Events sangat luas.

Ia juga mempertanyakan proses pemilihan perusahaan yang dilakukan melalui negosiasi, bukan tender terbuka yang kompetitif.

Menurut Tomiyama, kemampuan perusahaan yang dipilih dan cara panitia mengawasi pekerjaan setelah kontrak diberikan perlu diperiksa lebih lanjut.

Ada 54 Rekor Dunia Baru

Meski banyak masalah, Asian Games kali ini juga menghasilkan pencapaian olahraga. Direktur Jenderal OCA, Husain al-Musallam, menyebut ada 54 rekor dunia baru yang tercipta dalam cabang renang, angkat besi, dan menembak.

Ia menilai pencapaian tersebut menunjukkan bahwa atlet tetap mampu tampil baik selama kompetisi.

Namun, menurut al-Musallam, performa atlet juga bergantung pada hal-hal mendasar, seperti tempat tidur yang nyaman dan transportasi yang memadai.

Masalah penyelenggaraan bahkan berlanjut setelah Asian Games berakhir. Dalam Paragames yang berlangsung setelahnya, lagu kebangsaan yang salah kembali diputar dalam tiga acara.

Wali Kota Nagoya Ichiro Hirosawa, yang juga menjabat wakil ketua panitia penyelenggara, menyebut kesalahan tersebut tidak dapat diterima dan menyampaikan permintaan maaf.

Tomiyama berharap panitia dapat belajar dari berbagai masalah ini agar Jepang bisa menyelenggarakan ajang olahraga internasional dengan lebih baik pada masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Dugaan Kecurangan Pemilu AS Menguat, Pemilih Sebut Mesin Pemilu Ubah Suara

23 Okt 2026 - 08:48 WIB

Dugaan Kecurangan Pemilu AS Menguat, Pemilih Sebut Mesin Pemilu Ubah Suara

Pengembangan AI Rusia Terhambat, Dampak Serangan Drone Ukraina

23 Okt 2026 - 08:16 WIB

Pengembangan AI Rusia Terhambat, Dampak Serangan Drone Ukraina

Meta Didenda Rp 400 Triliun di AS

23 Okt 2026 - 07:31 WIB

Meta Didenda Rp 400 Triliun di AS

Update Selat Hormuz: 7 Kapal Tanker Rusak dan Terbakar

23 Okt 2026 - 07:26 WIB

Update Selat Hormuz: 7 Kapal Tanker Rusak dan Terbakar

AI Temukan Celah di PHP, Situs Pemerintah Sejumlah Negara Lakukan Pembaruan Keamanan

23 Okt 2026 - 06:05 WIB

AI Temukan Celah di PHP, Situs Pemerintah Sejumlah Negara Lakukan Pembaruan Keamanan
Trending di Internasional