FRANKFURT, 2 November 2026–Kerusuhan pecah di sejumlah kota Jerman pada Sabtu (31/10) malam, setelah ribuan anak muda menggelar demonstrasi menentang pemangkasan anggaran pendidikan, meningkatnya biaya hidup, dan rencana wajib militer.
Di Frankfurt, Berlin, Cologne, dan Hamburg, bentrokan terjadi ketika sejumlah demonstran menyerang petugas darurat menggunakan kembang api, batu, dan botol. Polisi mengerahkan meriam air untuk membubarkan massa.
Aksi tersebut sebelumnya berlangsung relatif damai. Demonstrasi diselenggarakan oleh kelompok Gen Z regelt, yang mengajak generasi muda menyuarakan keberatan terhadap kurangnya pendanaan sekolah, kenaikan biaya hidup, pemangkasan belanja publik, serta kebijakan dinas militer.
Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt mengatakan polisi berhasil mencegah kekerasan yang lebih luas seperti yang terjadi di Paris. Ia juga menyerukan hukuman berat bagi para pelaku kekerasan.
Toko Dijarah dan Polisi Diserang
Di Frankfurt, salah satu kawasan perbelanjaan utama ditutup setelah terjadi penjarahan. Polisi melakukan sejumlah penangkapan, termasuk terhadap seorang tersangka yang diduga terlibat dalam pembobolan toko senjata. Dua senjata dilaporkan berhasil diamankan setelah etalase toko tersebut dihancurkan.
Sejumlah toko lain juga menjadi sasaran penjarahan, termasuk toko sepatu yang menjual produk olahraga.
Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hesse Roman Poseck mengatakan sekitar 100 orang yang diidentifikasi sebagai ekstremis sayap kiri diduga menyusup ke dalam demonstrasi.
Di Cologne, polisi diserang di sekitar stasiun kereta utama menggunakan botol dan sepeda. Sementara itu, di Berlin, sebanyak 27 polisi dilaporkan terluka dan hingga 56 orang sempat ditahan.
Di Hamburg, sekelompok orang berpakaian hitam menyalakan kembang api dan membakar barikade. Stasiun penyiaran NDR melaporkan sekitar 120 orang ditangkap.
Pihak berwenang di Frankfurt, Munich, dan Berlin memperkirakan jumlah peserta demonstrasi mencapai 18.000 orang. Angka tersebut sekitar setengah dari perkiraan penyelenggara. Namun, sejumlah media Jerman menyebut jumlah peserta mencapai puluhan ribu orang.
Gelombang Protes Meluas ke Eropa
Jerman bukan satu-satunya negara yang menghadapi demonstrasi besar yang melibatkan generasi muda. Di Perancis, lebih dari 320.000 orang dilaporkan mengikuti aksi protes pada Sabtu.
Polisi Perancis menangkap lebih dari 770 orang. Sejumlah petugas terluka setelah demonstran melemparkan bom molotov. Aparat juga membuka penyelidikan atas dugaan percobaan pembunuhan.
Kelompok Gilet Jaune menyebut puluhan orang terluka akibat penggunaan granat oleh polisi. Salah satu jenis granat kejut telah ditangguhkan penggunaannya setelah seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan tangannya akibat ledakan. Namun, menurut laporan Le Monde, jenis granat lain masih digunakan.
Di Italia, bentrokan dilaporkan terjadi di Roma dan Turin. Sementara itu, di Portugal, polisi membubarkan kamp tenda setelah demonstrasi terkait persoalan perumahan dan kenaikan biaya sewa.
Harga rumah di Portugal dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.
Aksi serupa juga berlangsung di Belgia, Irlandia, Spanyol, Yunani, Serbia, dan Albania. Meski berlangsung di negara berbeda, para demonstran membawa sejumlah persoalan yang relatif sama, mulai dari sulitnya mendapatkan tempat tinggal, mahalnya biaya hidup, hingga menurunnya kualitas layanan publik dan pendidikan.
















