Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Internasional

Perlombaan AI Makin Mahal! Google, Amazon, dan Microsoft Hadapi Tekanan Investor

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

CALIFORNIA, 31 Oktober 2026 — Perlombaan menguasai teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin mahal bagi Google, Amazon, dan Microsoft. Mereka terus menggelontorkan dana dalam jumlah besar untuk mengembangkan infrastruktur, layanan, dan ekosistem AI.

Namun, investasi jumbo tersebut mulai menghadirkan tantangan baru. Google menghadapi tekanan pada pendapatan iklan akibat perubahan perilaku pengguna mesin pencari. Amazon mencatat arus kas negatif di tengah lonjakan belanja, sementara Microsoft juga menghadapi pertanyaan mengenai seberapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan dari teknologi AI.

Kondisi ini membuat investor mulai mempertanyakan apakah besarnya dana yang dikeluarkan ketiga perusahaan tersebut akan sebanding dengan keuntungan yang dijanjikan.

Alphabet, perusahaan induk Google, kehilangan lebih dari 500 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9.000 triliun nilai kapitalisasi pasar dalam sehari setelah mengungkapkan bahwa fitur kecerdasan buatan (AI) di mesin pencarinya mulai menggerus pendapatan iklan.

Informasi tersebut disampaikan dalam laporan kinerja keuangan Alphabet yang dirilis pada Rabu (28/10). Kepala Bisnis Alphabet, Philipp Schindler, mengatakan fitur AI Mode milik Google, yang memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan dan menerima jawaban melalui percakapan, mulai memengaruhi pendapatan dari iklan yang biasanya muncul di samping hasil pencarian tradisional.

Meski demikian, Schindler mengaku tetap optimistis terhadap arah pengembangan mesin pencari Google yang semakin berorientasi pada AI.

Perkembangan ini menunjukkan tantangan yang dihadapi Google di tengah meningkatnya penggunaan layanan AI seperti ChatGPT dan Claude. Kedua layanan tersebut menawarkan cara baru bagi pengguna untuk mencari informasi tanpa harus mengandalkan mesin pencari konvensional.

Kim Scott, mantan pemimpin bisnis periklanan Google, mengatakan perusahaan kemungkinan memilih mengembangkan teknologi yang berpotensi mengurangi pendapatan bisnis lamanya daripada membiarkan pesaing mengambil peluang tersebut.

Menurut Scott, Google sejak awal dibangun dengan keberanian mengambil keputusan teknologi jangka panjang, meskipun keputusan itu dapat merugikan perusahaan dalam jangka pendek.

Saham Alphabet Anjlok Lebih dari 12 Persen

Dalam laporan keuangan yang dirilis Rabu, Alphabet mencatat pendapatan sebesar 127,6 miliar dollar AS selama tiga bulan hingga akhir September. Angka tersebut meningkat 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pendapatan perusahaan tidak mencapai ekspektasi analis, terutama pada sektor periklanan. Kondisi tersebut membuat investor bereaksi negatif.

Saham Alphabet anjlok lebih dari 12 persen hingga mencapai level terendah dalam enam bulan setelah laporan keuangan diumumkan.

Pada penutupan perdagangan Kamis, nilai kapitalisasi pasar Alphabet turun menjadi 3,46 triliun dollar AS, dibandingkan 3,97 triliun dollar AS sehari sebelumnya.

Tracy Woo, analis utama Forrester, menilai hasil bisnis pencarian Google menunjukkan tantangan perusahaan dalam membiayai investasi AI berskala besar tanpa mengorbankan kekuatan bisnis yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama.

Amazon Tingkatkan Belanja AI, Arus Kas Negatif 42 Miliar Dollar AS

Selain Google, Microsoft dan Amazon juga menyampaikan perkembangan kinerja keuangan serta rencana investasi AI mereka.

Ketiga perusahaan teknologi tersebut berkomitmen menggelontorkan dana besar untuk bersaing dalam pengembangan teknologi AI. Namun, investor mulai mempertanyakan dampak investasi tersebut terhadap kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis utama.

Saham Amazon turun 6 persen dalam perdagangan setelah jam bursa pada Kamis (29/10).

Padahal, perusahaan mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 11 persen menjadi 201 miliar dollar AS. Namun, Amazon juga mengungkapkan arus kas negatif sebesar 42 miliar dollar AS.

Angka tersebut menunjukkan besarnya pengeluaran perusahaan yang melampaui arus kas yang dihasilkan. Nilai tersebut juga meningkat enam kali lipat dalam rentang tiga bulan.

CEO Amazon Andy Jassy mengatakan perusahaan sedang berinvestasi karena melihat peluang untuk mengembangkan bisnis yang berpotensi menghasilkan pendapatan hingga 1 triliun dollar AS pada masa depan.

Jassy menyebut layanan komputasi awan Amazon dan jaringan toko ritelnya sebagai dua peluang besar. Ia juga menyoroti potensi bisnis produksi chip komputer serta Bedrock, platform pengembangan AI yang memberikan akses kepada pengguna berbayar terhadap berbagai model dan perangkat AI.

Menurut Jassy, tidak ada satu teknologi atau produk yang akan menguasai seluruh pasar. Ia menilai konsumen akan terus menggunakan beragam layanan sesuai kebutuhan mereka.

Jassy mengakui besarnya pengeluaran perusahaan akan lebih mudah pengelolaannya jika dapat di bagi selama 25 tahun. Namun, menurutnya, kondisi persaingan saat ini menuntut Amazon harus bergerak lebih cepat.

Ia meyakini investasi tersebut dapat mengubah skala bisnis, pendapatan, dan arus kas bebas Amazon dalam jangka panjang.

Microsoft Hadapi Pertanyaan soal Nilai Ekonomi AI

Berbeda dengan Alphabet dan Amazon, reaksi pasar terhadap laporan keuangan Microsoft relatif lebih terbatas. Saham perusahaan tersebut turun kurang dari 1 persen pada Kamis.

Microsoft mengungkapkan pengeluaran investasi yang dialokasikan untuk AI sekitar 5 miliar dollar AS lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Perusahaan juga sebelumnya mengumumkan rencana pengurangan ribuan pekerja yang akan membantu menekan biaya operasional.

Dari sisi pendapatan, Microsoft mencatat pertumbuhan 19 persen menjadi 92,3 miliar dollar AS pada kuartal tersebut.

Bisnis komputasi awannya juga menunjukkan pertumbuhan kuat. Pendapatan dari sektor tersebut meningkat 30 persen menjadi 63 miliar dollar AS.

CEO Microsoft Satya Nadella mengatakan penggunaan Copilot, chatbot dan perangkat AI milik perusahaan, terus meningkat. Jumlah tugas yang diotomatisasi melalui layanan tersebut hampir dua kali lipat sejak Juli, sementara pengguna aktif harian tumbuh 500 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski mencatat pertumbuhan pendapatan dan pengeluaran investasi yang lebih rendah, hasil Microsoft tetap memunculkan pertanyaan di kalangan investor mengenai nilai ekonomi AI.

Tracy Woo menilai Wall Street kini tidak hanya memperhatikan pertumbuhan bisnis saat ini, tetapi juga berusaha melihat perusahaan mana yang benar-benar mampu menghasilkan keuntungan dari investasi besar di bidang AI.

Menurutnya, hasil Microsoft memperlihatkan permintaan AI dari kalangan perusahaan masih kuat. Namun, pertanyaan yang lebih besar adalah di mana nilai ekonomi dari teknologi AI pada akhirnya akan benar-benar diperoleh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Dari Denda hingga Potong Tunjangan Orang Tua, Ini Cara Eropa Tagih Ganti Rugi Kerusuhan

31 Okt 2026 - 10:42 WIB

Dari Denda hingga Potong Tunjangan Orang Tua, Ini Cara Eropa Tagih Ganti Rugi Kerusuhan

Binance Kena Hack Rp 114 Triliun, Diduga Libatkan Hacker Korea Utara

31 Okt 2026 - 08:31 WIB

Binance Kena Hack Rp 114 Triliun, Diduga Libatkan Hacker Korea Utara

Jelang Midterm 2026, Manuver Trump Picu Kekhawatiran soal Integritas Pemilu AS

30 Okt 2026 - 12:02 WIB

Jelang Midterm 2026, Manuver Trump Picu Kekhawatiran soal Integritas Pemilu AS

Gubernur Alaska Perintahkan Penyelidikan atas Kandidat Partai Demokrat, Terkait Nama Sam

30 Okt 2026 - 10:01 WIB

Gubernur Alaska Perintahkan Penyelidikan atas Kandidat Partai Demokrat, Terkait Nama Sam

China Pecat 33 Anggota Partai Komunis, Termasuk Jenderal Militer

30 Okt 2026 - 08:24 WIB

China Pecat 33 Anggota Partai Komunis, Termasuk Jenderal Militer
Trending di Internasional